12

Zero Waste Cities Bantu Petugas Sampah Hidup Lebih Baik

“Zero Waste Cities bisa meningkatkan kualitas hidup para petugas sampah?” Ujar May temanku yang tampak bingung saat aku mengajaknya berdiskusi sedikit tentang hal ini. Ya, May merasa aku merepotkan diri sendiri dengan memilah-milah sampah yang akan dibuang. Menurutnya yang namanya sampah itu cukup dimasukkan ke kotak sampah, dan tinggal tunggu tukang sampah yang biasa keliling kompleks untuk mengangkutnya.

zero-waste-cities-dan-manfaatnya

May hanya satu dari sekian orang yang sampai saat ini masih belum bijak dalam memperlakukan sampahnya. Pernah juga aku mendengar seseorang berkata, “Kan memang untuk itu (mengangkut sampah) mereka dibayar.” Jujur, aku sedih mendengarnya. 

Tak hanya itu, pembuang sampah masih banyak yang seenaknya. Buktinya masih ada yang tidak mau membuang sampah sesuai tempatnya di area publik. Masih banyak yang asal dalam memasukkan sampah ke dalam tong sampah. Padahal di area publik sudah banyak tersedia kotak sampah beda warna sesuai jenis sampahnya. 

Sadarkah kita bahwa cara kita memperlakukan sampah dapat berakibat serius bagi kehidupan ke depannya? Bukan hanya tentang kebersihan lingkungan saja, tetapi juga keselamatan kehidupan orang lain. Terutama bagi mereka yang menggantungkan hidupnya sebagai petugas sampah, dan para pengais rezeki di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). 

Pentingnya Peran Petugas Sampah

Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan para petugas sampah sangat penting bagi kita. Sayangnya mereka kerap dianggap golongan kelas bawah yang tidak penting. Bahkan masih banyak yang tidak menghargai hanya karena mereka berpofesi sebagai pengangkut sampah. 

Sekarang coba tanya pada diri kita masing-masing. Jika  petugas sampah yang pekerjaannya identik dengan kotoran dan aroma tidak sedap itu tidak ada, maka sanggupkah kita membuang sampah harian sendiri? Jika jarak TPA dekat, mungkin tidak terlalu masalah. Bagaimana jika jaraknya cukup jauh? Masih sanggupkah kita hilir mudik mengangkut beban sampah kita? Terlebih, apakah kita cukup bisa mentoleransi ketika harus mencium aroma sampah di TPA?


zero-waste-dan-sampah

Di sini kita tentunya sudah menyadari betapa keberadaan petugas sampah itu sangat kita butuhkan. Berkat mereka lingkungan jadi bersih dan hidup kita pun juga lebih nyaman. Dan sudah seharusnya mereka mendapat apresiasi yang tinggi. Atau paling tidak kita bisa melakukan hal kecil untuk meringankan beban kerja mereka, misalnya dengan memulai hidup Zero Waste (minim sampah).


lifestyle-ala-zero-waste

Namun aku sedih saat mengetahui upah yang diterima petugas sampah yang biasa mengambil sampah di rumah. Sebulan hanya Rp450.000. 

Sungguh nilai yang tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lakukan. Ditambah ada risiko berat yang harus mereka hadapi, yaitu ancaman kesehatan hingga nyawa. Bagaimana tidak? Waktu mereka banyak dihabiskan dilokasi pembuangan sampah, dimana banyak kuman, bakteri, dan virus. 

Belum lagi mereka juga terpaksa harus menghirup udara yang telah tercemar di lokasi TPA. Gas metana dari hasil pencampuran sampah organik dan anorganik adalah gas beracun yang dapat mengancam nyawa manusia. 

Aku jadi teringat dengan kisah pengambil sampah di tempat tinggalku, yang terpaksa libur beberapa hari karena kaki kanannya terluka. Saat itu petugas sampah lingkungan kami sedang memadatkan tumpukan sampah di gerobaknya. Namun malang, diantara tumpukan itu ada pecahan botol yang langsung menyobek tepi kakinya. 

Meski petugas sampah tersebut libur tidak sampai satu pekan, tapi ketidakhadirannya sungguh sangat terasa. Warga jadi sedikit lebih repot. Dan kadang sampah kerap menumpuk di beberapa rumah karena belum juga dibuang-buang. Tidak terbayang bagaimana jika tidak ada lagi petugas sampah. Pasti kompleks ini tidak akan senyaman ini ditinggali. Dari sini, kita harusnya sadar akan pentingnya peran para petugas sampah.

Kecelakaan petugas sampah saat bekerja mungkin juga sudah banyak terjadi di tempat lain. Namun hal itu kadang masih dianggap wajar oleh sebagian orang. Namanya juga risiko pekerjaan. Itulah yang biasanya diucapkan. 

Akan tetapi, dari sampah yang kita produksi setiap harinya, ternyata juga pernah membawa malapetaka yang lebih serius. Seperti musibah yang pernah terjadi di Leuwigajah, Cimahi 16 tahun silam.  

Tragedi Leuwigajah 2005

Tepat pada tanggal 21 Februari 2005 Indonesia dilanda duka atas kematian sekitar 143 warga Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat. Kematian itu disebabkan oleh longsornya sampah di TPA Leuwigajah, yang terjadi ketika mereka sedang tertidur lelap. 

Gunungan sampah yang longsor akibat hujan deras semalaman, serta dipicu konsentrasi gas metana pada sampah itu, seketika menenggelamkan dua perkampungan, yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Gunung Aki. Kehidupan di dua kampung tersebut hilang begitu cepat. Padahal antara TPA dan pemukiman warga jaraknya sekitar satu kilometer.


cegah-bencana-dengan-zero-waste
Ilustrasi longsor TPA Leuwigajah 2005


Peristiwa ini adalah tragedi paling pahit dalam sejarah Indonesia, yang disebabkan oleh masalah sampah. Untuk itu kita semua harus benar-benar mengubah mindset dan lebih bijak dalam masalah pengelolaan sampah, agar musibah pahit di TPA Leuwigajah tidak terulang lagi. Salah satunya adalah dengan memilah sampah sebelum diangkut ke TPA, sebagaimana yang dilakukan dalam metode Zero Waste Cities. 

Kesalahan Masyarakat Dalam Memandang Sampah

  1. Hanya Butuh Satu wadah

Saat ini memang sudah banyak tempat yang melakukan gerakan pembuangan sampah sesuai kategori, yaitu sampah organik dan non-aorgnik. Sayangnya masih banyak masyarakat yang belum maksimal menerapkannya. Bagi mereka kegiatan memilah sampah itu merepotkan. 


  1. Sampah Itu Kotor

Label kotor pada sampah membuat orang-orang berpikir bahwa ia harus dijauhkan dan disingkirkan. Sayangnya banyak yang kurang peduli disingkirkannya kemana.Yang penting hilang dari pandangan, tanpa memikirkan akibatnya. 



  1. Sudah Ada yang Bertugas

Pikiran ini yang kerap membuat orang membuang sampah di sembarang tempat. Karena merasa nanti pasti ada petugas kebersihan yang akan memungut. Lihat saja fenomena saat konser atau event lainnya, yang kerap meninggalkan sampah dimana-mana. 

Dampak Sampah Bagi Manusia dan Lingkungan

  1. Dampak Bagi Kesehatan

Sampah yang tidak dikelola dan ditangani dengan baik, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan manusia, terutama bagi para petugas sampah, pemulung, dan mereka yang tinggal di sekitarnya. Pencemarannya yang bisa lewat udara, tanah, air, dan mikroorganisme lainnya, membuat manusia mudah terserang penyakit. 


  1. Dampak Bagi Lingkungan

Membuang sampah sembarangan, misalnya ke sungai atau aliran air, dapat mencemari lingkungan. Air sungai jadi kotor dan berbau tak enak. Selain itu tumpukan sampah  tersebut juga dapat memicu terjadinya banjir. Belum lagi jika ada banyak volume sampah plastik, yang bisa mencemari tanah dan lingkungan sekitarnya.

Kita memang tidak bisa terhindar dari yang namanya sampah. Tetapi kita bisa meminimalisir dampak buruknya, dengan cara bijak memperlakukan sampah. Kita bisa memulainya dari diri kita sendiri, dari rumah kita, yaitu dengan memilah sampah sebelum diangkut petugas sampah. Sehingga hal ini akan mengurangi volume sampah yang dibawa ke TPA. Pikirkanlah, jika TPA penuh, lantas kemana kita akan membuang sampah?


pilah-sampah-ala-zero-waste

Memilah sampah mungkin adalah hal remeh. Tapi tidak bagi para petugas sampah. Justru hal ini sangat membantu mereka. Bayangkan jika kita menjadikan satu semua sampah, akan seperti apa baunya? Dan bagaimana kondisi di tempat pembuangan akhir? Tentunya kondisi ini akan membuat petugas sampah tidak nyaman. 

Sampah yang telah dipilah, dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang daur ulang. Di kota besar biasanya sudah ada bank sampah yang bisa dimanfaatkan untuk menukar sampah menjadi uang. Tentunya tidak sia-sia kan melakukan pemilahan sampah ini? Namun apakah cukup dengan daur ulang untuk menjadikan sebuah kota Zero Waste Cities? 

Dari beberapa sumber yang kubaca, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membantu meningkatkan kualitas hidup para petugas sampah, yaitu:

  1. Refuse (Tolak / Hindari)

Refuse berkaitan erat dengan kebiasaan kita berbelanja. Terkadang kita mudah tergoda membeli barang hanya karena bentuknya unik atau sedang banjir harga promo. Padahal sebenarnya kita tidak begitu memerlukannya. Karena itu untuk menghindari penumpukan barang tidak terpakai di rumah, ada baiknya kita menata pola pikir dalam berbelanja. Butuh atau sekadar ingin?


Selain itu, refuse juga bisa kita aplikasikan dalam bentuk penolakan terhadap produk atau pun kemasan sekali pakai. 

  1. Reduce (Kurangi)

Gunakanlah selalu barang-barang yang dapat dipakai berulang, seperti penggunaan goodie bag saat belanja, menggunakan peralatan makan sendiri, dan mengganti barang single used harian dengan yang bisa dipakai berulang. Selain itu reduce juga bisa kita terapkan dalam kebiasaan sehari-hari, misalnya mematikan lampu saat keluar ruang, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, dan lainnya. 

  1. Reuse (Penggunaan Kembali)

Manfaatkan barang yang sudah dipakai untuk keperluan lain, misalnya menggunakan botol untuk tempat garam, menggunakan sisi kertas yang masih kosong, dan lainnya. Tak hanya itu reuse juga bisa dengan cara memilih barang yang awet agar bisa dipakai dalam jangka waktu lama. Hal ini tidak hanya bisa membuat kita hemat. Tetapi juga membantu meningkatkan kualitas hidup pengumpul sampah. 

  1. Recycle (Daur Ulang)

Daur ulang sampah milik kita menjadi barang yang bisa digunakan kembali, misalnya kertas daur ulang, wadah pensil daur ulang, botol daur ulang, dan lainnya.  

  1. Donate (Donasikan)

Berikan barang yang masih layak pakai kepada mereka yang lebih membutuhkan. Daripada hanya menumpuk di rumah tanpa manfaat. 

  1. Composed / Rot

Olah sampah dapur atau organik menjadi kompos atau pupuk alami. 

  1. Landfill 

Buanglah sampah yang tidak bisa lagi di olah atau dimanfaatkan kembali ke TPA untuk kmudian dilakukan penimbunan.


gaya-hidup-zero-waste

Cara pengurangan dan pengelolaan sampah yang dapat kita lakukan di rumah tersebut, pada akhirnya akan sangat berpengaruh signifikan pada penguragan jumlah sampah di TPA. Tentunya hal ini juga baik bagi para petugas sampah di lapangan. Karena secara tidak langsung kualitas hidup mereka akan jauh lebih baik. 

Suatu kebiasaan baik itu biasanya akan menular. Bukan tidak mungkin hal kecil yang kita lakukan ini akan merambah cakupan wilayah yang lebih luas lagi. Jadi mari kita mulai bergerak dan turut berkontribusi dalam membantu para petugas pengambil sampah agar konsep Zero Waste Cities terealisasi dengan baik. 

Zero Waste Cities Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup Petugas Sampah

Mengutip artikel di laman YPBB, Zero Waste Cities (ZWC) merupakan sebuah program pengembangan model tata kelola sampah yang berwawasan lingkungan, berkelanjutan, serta terdesentralisasi di kawasan pemukiman. Program ini diinisiasi Mother Earth Foundation di Filipina. YPBB sendiri telah mereplikasi serta menyesuaikan dengan kondisi di wilayah masing-masing sejak tahun 2017, yang mencakup tiga kota, yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung. 

Kemudian pada tahun 2019 program ZWC telah memperluas lingkup kotanya ke Denpasar dan Surabaya, yang akan dijalankan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) dan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Program ZWC bertujuan untuk bisa mengurangi beban dalam pengelolaan sampah pada tingkat Kota/Kabupaten. Adanya program ini diharapkan bisa membantu Kota/Kabupaten untuk mencapai target pengurangan sampah yang telah diamanatkan dalam Kebijakan Strategis Pengelolaan Sampah Nasional, terkait Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.


zero-waste-cities-kabupaten-bandung
Pemilahan dan Pengkutan terpilah bersama YPBB Bandung


YPBB sendiri adalah sebuah organisasi non-profit profesional bertempat di Kota Bandung, yang terus konsisten mempromosikan dan mempraktekkan pola hidup selaras dengan alam, guna mencapai kualitas hidup yang baik serta berkelanjutan untuk masyarakat. 

Hidup minim sampah atau Zero Waste mungkin masih sulit bagi sebagian orang. Terlebih sudah terlalu lama masyarakat dimanjakan dengan berbagai kepraktisan. Namun bukan berarti kita menyerah mengajak mereka dalam program ini. Dengan komitmen kuat dan upaya yang kontinyu, bukan tidak mungkin kelak Zero Waste ini akan menjadi habit dan gaya hidup yang melekat. 

Oleh karena itu saya sangat kagum dengan apa yang telah dilakukan oleh YPBB terkait kepedulian terhadap masalah sampah, serta dalam upaya peningkatan kualitas hidup para petugas sampah melalui program-programnya.


zero-waste-cities-cimahi
Memonitoring pemilahan sampah warga oleh staff YPBB

Dan menurut saya apa yang dilakukan YPBB ini patut dicontoh sebagai solusi terbaik mengatasi masalah sampah. Apalagi peningkatan jumlah sampah di beberapa kota makin mengkhawatirkan. Namun dampak buruk akibat sampah itu bisa ditekan melalui metode pengelolaan sampah organis yang ada di ZWC. 

Metode Pengelolaan Sampah Organis di Zero Waste Cities

Menurut YPBB, di ZWC ada beberapa metode pengelolaan sampah organis, yang bisa dilakukan secara individu atau pun kelompok. Secara individu, ada beberapa macam media pengomposan, yaitu metode takakura dan bor biopori. Metode takakura bisa dicontoh dari apa yang telah dilakukan Diah Ayudithha, staf YPBB. Sedangkan metode biopori telah dilakukan pelatihan Zero Waste Lifestyle di RW 7 Kel. Neglasari, Cibeunying Kaler, Bandung.


pengelolaan-sampah-ala-zero-waste-cities
Beberapa kegiatan YPBB Bandung dalam ZWC

Untuk skala komunal, ada bata terawang, biodigester, dan lubang kompos, dimana media pengomposan dapat dipilih berdasarkan karakter warga, serta potensi yang dimiliki RW atau kawasan. 

Dengan penerapan pengelolaan sampah yang lebih baik, maka akan tercipta lingkungan hidup yang lebih baik. Tanah tidak lagi tercemar karena telah disuburkan lewat metode ZWC. Hasilnya, tentu akan berimbas pada keseimbangan lingkungan dan kualitas hidup. Inilah yang akan membantu petugas sampah memperoleh hidup lebih baik.

Ambil Peranmu dan Berkontribusilah

Kita semua tentu ingin lingkungan yang sehat, aman, dan bersih, bukan? Maka dari itu mulailah ambil peran dalam mewujudkan kota minim sampah. Memang, gaya hidup Zero Waste tidak bisa tercipta secara instan. Tapi kita bisa melakukannya secara konsisten. Perlahan tapi berkelanjutan. Beberapa hal yang bisa kita lakukan ketika ingin menciptakan Zero Waste lifestyle adalah tentunya memperkaya literasi, update segala isu lingkungan, dan terapkan dalam keseharian. 

Kita pun bisa memulainya dari langkah kecil untuk mengajak orang lain memulai Zero Waste, misalnya memberi contoh pada orang lain lewat perilaku kita, mengedukasi keluarga, atau mengedukasi teman dekat tentang betapa kita harus peduli dengan maslah lingkungan dan sampah kita. Yakinlah usaha sekecil apapun pasti ada manfaat kedepannya. 

Sebagai blogger, kita bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk menyampaikan pesan tentang permasalahan serius yang mengancam kelangsungan hidup. Teruslah edukasi masyarakat tentang isu lingkungan lewat konten kita,agar mereka tahu dan sadar bahwa kita tengah mengalami krisis lingkungan. Dan memang bumi sedang tidak baik-baik saja. Bukan karena terus dihantam bencana alam. Tapi karena sikap kita. 

Sistem pengelolaan sampah di kawasan akan sukses lewat edukasi tentang pemilahan dan pengangkutan yang terpilah oleh petugas. Namun hal itu tentu belum cukup untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Sebagus apapun sitemnya, akan sia-sia jika tanpa peran aktif kita semua. Jadi dalam hal ini juga sangat dibutuhkan peran semua lapisan dan kalangan, baik masyarakat, lembaga terkait, hingga pemerintah. 

Yuk, teman-teman kita dukung terus pengelolaan sampah dari sumber dan kawasan. Sehingga kita tidak hanya berperan dalam upaya menjaga lingkungan saja, tapi juga dapat membantu para petugas sampah mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik lewat Zero Waste Cities. Semoga kontribusi kecil kita juga mampu menyelamatkan bumi dari kerusakan. 


Referensi:

http://ypbbblog.blogspot.com/

https://greenpeace.org



Posting Komentar

  1. Program zero waste ini sangat berguna banget apalagi kalau enggak di galakkan sampah seperti apa yang nantinya akan terus terusan bertambah yah tentunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Semoga bisa segera diadaptasi kota lainnya di tanah air juga

      Hapus
  2. Penanganan sampah emang berat ya, makanya harus dari diri sendiri + program kaya zero waste gini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Dan butuh peran kita semua agar agenda ini berjalan efektif

      Hapus
  3. Biasanya kalau aku biar tukang sampah ga repot ambil sampah, aku selalu memisahkan sampah basah dan kering. Setidaknya bisa sedikit meringankan pekerjaan tukang sampah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh, sudah sangat membantu banget itu mbak. Semoga istiqomah ya

      Hapus
  4. Waktu awal pandemi, tukang sampah ada 3 bulanan ga jalan keliling ngangkut sampah, baru kerasa betapa pentingnya perannya. Sampah jadi numpuk, ada yg akhirnya bakar sampah ada juga yg mesti angkut sendiri ke pembuangan sampah. Repotlah pokoknya. Makanya jangan dianggap remeh si abang tukang sampah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener banget ini mbak. Aku juga pernah ngalami kehilangan bgt dengan ketidakhadiran petugas sampah. Padahal cuma beberapa hari

      Hapus
  5. Aku pernah melihat petugas sampah di Jepang via youtube. Mereka begitu bersih, truknya pun bersih sekali, ada pintu otomatisnya yang dapat membuka dan menutup. Para petugas sampah itu mengambil sampah sesuai dengan jenis sampah yang sudah dipilah2 oleh para pemilik sampah di masing2 runah tersebut. Benar2 kondisi yang ideal dan jauh jika dibandingkan dgn disini. Semoga suatu saat nanti di Indonesia juga bs spt ini ya. Petugas sampah pun berani untuk tidak mengambil sampah jika tidak dipilah-pilah dahulu oleh si emounya sampah. Andai masyarakat kita juga dapat menghargai para petugas sampah seperti itu dan merasa sampah adalah tanggung jawab pribadi serta pengelolaan sampah di TPA baik, tentunya tidak akan terjadi tragedi longsor sampah yang menewaskan ratusan jiwa di bandunh tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren ya pengelololaan sampah di Jepang. Semoga kita juga mampu untuk mewujudkannya. Maunya mungkin gitu juga ya, kalau sampah nggak dipilah, nggak akan diangkut.

      Iya,sedih pisan kalau ingat tragedi di Leuwigajah. Semoga nggak terulang

      Hapus
  6. Program zero waste ini memang bagus karena memilah sampah lebih dulu, hanya aja memang perlu agar disebarkan di semua wilayah sehingga petugas yang mengangkut sampah dan warga bisa kompak memilah sampahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, jadi peran kita yang blogger ini harus dimaksimalkan juga. Kita bantu masyarakat tahu melalui konten kita ya

      Hapus

 
Top