Ini adalah sebuah karya
fiksi berbalut non fiksi yang ditulis sebagai bagian dari perjalanan hidup, dengan
harapan kita, terutama aku pribadi senantiasa dapat mengambil hikmah dari setiap
episode kehidupan.
Namanya
Denika, seorang sarjana Sastra Inggris berusia 25 tahun yang sekarang sedang
sangat menikmati karir sebagai seorang blogger aktif, di mana tulisan-tulisan di
blog pribadinya yang telah berstatus TLD (Top Level Domain alias bukan lagi blog
gratisan), sering dibaca oleh ribuan orang, dapat berbagai macam tawaran
kerjasama seperti content placement dan menulis tentang campaign tertentu dari brand
perusahaan, instansi, hingga UMKM.
Selain
itu, Denika juga sibuk sebagai pembuat konten digital di media sosial yang mengulas
tentang kisah perjalanannya ke berbagai tempat, berbagai tips, pengalaman
hidup, tentang kucing-kucingnya, hinggal hal-hal receh yang menurutnya
bermanfaat.
Ya,
inilah dunia yang dianggap Denika sebagai hidupnya. Ia telah sangat lama menyukai
dunia kepenulisan dan berbagi pengalamn atau hal lainnya di media sosialnya. Itulah
mengapa ia sangat menikmati menjadi seorang blogger, penulis, dan pembuat
konten. Bahkan gadis single itu tak pernah keberatan jika mendapatkan tawaran
kolaborasi tanpa bayaran.
Baginya
tidak semua hal harus diperhitungkan secara komersil. Karena ada banyak hal
yang bisa didapatkan dari sekadar nominal tertentu, yakni ilmu, pengalaman, teman
baru, dan koneksi.
Hari-hari
Denika terlihat cukup sibuk dan mungkin orang akan mengira bahwa ia punya kreator konten, ia telah mampu
membahagiakan orang-orang yang disayanginya. Keluarganya hidup tanpa kekurangan
dan bahkan di lingkungan tempat tinggalnya keluarga Denika dianggap sebagai
orang mampu.
Denika
terbilang sebagai gadis sukses oleh para tetangganya. Hal ini hanya karena ia mampu
membelikan mobil pribadi untuk orangtuanya secara cash, mengambil KPR rumah dengan
tenor singkat, sering mengajak keluarganya bepergian, dan banyak hal lainnya.
Atas
semua pencapaian itu, Denika sangat bersyukur dan makin bersemangat, karena
bisa menghasilkan uang dari pasion yang ia nikmati tanpa beban. Saat ini ia
tengah gigih mengumpulkan pendapatann agar cukup untuk memberangkatkan kedua orangtuaya
ke Baitullah.
Episode
Pagi Hari dari Sebuah Dapur Sederhana
Kalau
hidup itu adalah sitkom, maka untuk episode pagi ini di rumah Denika yang
sederhana pasti akan selalu dimulai dari dapur. Ibu dan ayah adalah karakter
utama dan ia adalah seorang figuran kecil yang masih loading hidupnya.
Pagi
itu, seperti biasanya sang ibu menyajikan sarapan andalan, yakni nasi goreng hangat,
tempe goreng, dan telur mata sapi. Tak lupa tersaji juga teh manis dengan gula
sebanyak harapannya agar anak gadisnya itu bisa segera “punya kerjaan tetap” alias
ada kantornya dan gaji bulanan yang stabil.
“Udah
daftar seleksi CPNS belum, Den?” tanya sang Ibu lembut sambil menuangkan nasi
ke piringnya.
“Masih
mikir dan bingung, Bu…,” jawabnya.
“Mikir
terus mah kayak handphone kehilangan sinyal. Ditunggu-tunggu dengan harapan,
tapi malah bikin kecewa,” sambung sang ayah yang baru saja bergabung di meja
makan.
“Iya
Den, nggak ada salahnya mencoba hal yang baik buat hidupmu. Urusan nanti
berhasil atau gagal, nggak usah terlalu dipikirkan. Yang terpenting berikan usaha
terbaikmu,” kata ibunya menimpali.
Gadis
itu hanya nyengir karena kalimat ayah dan ibunya kali ini seolah layaknya anak
panah yang menancap tepat pada sasaran.
“Ibu
dan ayah hadir memberi dorongan, bukan paksaan, yang kadang mereka sampaikan
dengan kata menohok, tapi tujuannya tak lain adalah agar kita berani menyusun
hidup yang lebih baik.”
Sukses
Bukan Hanya Milik PNS
Bagi
Denika, kamar adalah selalu menjadi spot favorit di rumahnya. Siang itu ia kembali
membuka laptop kesayangannya setelah selesai sholat dhuzur. Tetapi kali ini bukan
untuk mengerjakan artikel dari klien atau menulis di blog, melainkan hanya
ingin membuka folder yang disebutnya sebagai kehidupan.
Dua
folder terbuka:
1. CPNS_2025
2. Draft_Konten_Pilihan
Yang
pertama adalah folder untuk hidup yang “nyaman dan aman” menurut orang lain. Sedangkan
yang kedua merupakan untuk hidup yang bagi Denika adalah “Aku banget”. Gajinya tidak
dibayar setiap bulan, tidak melulu ada klien, tidak ada status layaknya pekerja
kantoran, dan tidak ada jaminan hari tua berupa dana pensiun.s
Mungkin
inilah yang membuat sang ibu ketar-ketir dengan nasib hidup anaknya tersebut,
karena menurut ibunya, apa yang ditekuni Denika tidak dapat memberi jaminan ke
depannya.
Meskipun
mungkin banyak orang menganggap pekerjaan Denika saat ini tidak , bergengsi
layaknya PNS yang selalu dianggap di lingkungannya sebagai profesi dengan masa
depan secerah mentari pagi, namun Denika sangat menikmati apa yang ia jalani. Gadis
yang penuh semangat menata masa depannya itu sangat yakin, bahwa di bidang ini ia
juga bisa sukses selama mau terus berusaha yang terbaik. Terlebih apa yang dijalaninya
adalah hal yang disukai. Jadi, akan lebih mudah meraih sukses karena ada bara
api yang berkobar-kobar dalam dada yang memacu semangatnya untuk terus maju.
Salah
satu klien paling berkesan yang meminta kerjasama dengan Denika adalah Bu Nunik,
pemilik butik hijab dan mukena premium. Wanita berusia sekitar 46 tahun itu
minta dibuatkan konten Instagram yang unik tapi lembut, spiritual, sekaligus ada
unsur lucu. Namun ia minta jangan
terlalu banyak ketawa, karena katanya nanti aura religiusnya bisa buyar.
“Mbak,
tolong ya, kata yang ‘harum iman’ diganti saja dengan ‘wangi surga’. Tapi
jangan seolah kita seperti sok tahu soal surga. Supaya tetap elegan, gitu.”
Denika
membaca chat dari kliennya tersebut sambil menyeruput es teh manis yang ia masukkan
kulkas semalam. “Rasanya benar-benar seperti disuruh bikin konten yang nyambung
antara akhirat dan algoritma ini, celetuknya.
Tapi
ia justru senang, karena baginya itu adalah sebuah tantangan yang dapat
membantunya menjadi lebih profesional lagi, lantaran dapat memenuhi ekspektasi
setiap kliennya.
Pertanyaan
Lugu dari Nuna Kecil
Sore
itu, Nuna tetangga kecil Denika yang biasanya main ke rumah untuk menanyakan
PR, bermain dengan kucingnya, atau sekadar curhat ringan dengannya, datang
dengan membawa selembar kertas bergambar.
“Kak
Denika, tadi di sekolah ibu guru tanya kalau sudah besar aku mau jadi apa? Nah,
aku kan mau jadi pelukis ya kak, tapi mama maunya aku jadi bu bidan,”
celotehnya dengan gaya bicara anak-anak yang bikin gemas.
“Boleh
nggak kak kalau aku milih nggak ikutin maunya mama?” Tanyanya.
Denika
terdiam sejenak. Ia hanya tersenyum dan berkata,
“Pilihlah
apa yang bikin kamu bisa bangun pagi dengan senyum, dan jangan pernah menjalani
hidup sesuai maunya orang lain,” jawabnya.
Nuna
tampak senang dan dia langsung menyodorkan selembar kertas yang dibawanya.
Ternyata Nuna melukis dirinya, Denika, dan kucing-kucing Denika yang sedang
bermain di sebuah taman.
Meski
Nuna masih kecil, tetapi ia punya bakat luar biasa di bidang seni. “Semoga saja
ia dapat meraih cita-cita sesuai minatnya”, batin Denika.
“Kadang
yang kita butuhkan itu adalah bukan keputusan yang benar, tapi ruang untuk
tetap jadi diri sendiri meski belum sepenuhnya bisa dimengerti.”
Obrolan
Bersama Ibu yang Menghangatkan
Malam
itu, sang Ibu sedang duduk melipat baju sambil nonton sinetron favoritnya.
“Bu...
insyaAllah aku akan ikut CPNS tahun ini, tapi aku juga mau tetap menjadi
blogger karena aku suka dunia kepenulisan. Aku tahu Ibu hanya ingin aku hidup
tenang seperti orang lain yang punya gaji tetap. Tapi aku juga ingin bisa
menjalani hidup yang terasa hidup sesuai pasionku,” kata Denika.
Ibunya
berhenti melipat baju dan menatap Denika agak lama, lalu mendekat. Tangannya yang
lembut dan hangat mendarat pelan di bahu sang anak.
“Ibu
ingin kamu hidup stabil, iya. Tapi Ibu juga nggak ingin kamu kehilangan nyawa
sendiri hanya karena harus mengikuti jalan hidup yang nggak kamu cintai.”
“Tidak
apa-apa, asal kamu tahu bahwa saat kamu gagal itu karena sudah milih... bukan
karena kamu diam,” kata ibunya bijak.
Denika
sangat senang, karena ibu ternyata sangat bijak dan membuatnya makin
menyayanginya. Kini ia pun paham, mengapa ibunya terus meminta untuk daftar
CPNS tahun ini. Itu bukan memaksakan kehendaknya, tapi agar sanga anak bisa
hidup nyaman ke depannya.
Folder
Baru, Nafas Baru Kehidupan
Malam
itu Denika membuat folder baru di laptopnya yang diberi nama “Yang Ibu Ingin,
Yang Aku Butuh”
Isinya?
Artikel-artikel yang ditulisnya, draft cerita anak-anak, hingga puisi yang
belum selesai. Folder itu memang belum banyak isinya, namun rasanya… penuh.
Di
saat hidupnya mulai terasa seperti video buffering karena gangguan sinyal yang
tidak stabil, ia akan membuka folder itu dan mengingat:
“Semua
orang ingin pilihan terbaik. Tapi seringkali, yang terbaik adalah pilihan yang
kita jalani dengan utuh, walau belum utuh hasilnya.”
Selembar
slip gaji mungkin bisa menenangkan hati ibu, tapi secuil keberanian dapat menyelamatkan
nyawa batin anaknya. Karena hidup ini bukan hanya soal memilih jalan yang lurus
atau berliku, tapi tentang berani berjalan walaupun yang kita pegang hanya
kompas keyakinan.

Posting Komentar