0
Insto Dry Eyes Atasi Mata Kering


Jujur, aku termasuk tipe orang yang suka menganggap sepele ketika di tubuh ada gangguan kecil. Salah satunya saat mataku terasa lelah, perih, atau kering. “Pasti karena kurang tidur nih.” Itulah sebait kalimat yang jadi andalan setiap kali mata mulai protes. Kebetulan aku memang sering tidur larut untuk menyelesaikan pekerjaan atau sekadar marathon nonton dracin favorit.

Mata kadang seperti ada selaput dan agak gatal saat bangun tidur, kadang baru beberapa jam di depan laptop mata rasanya perih, dan saat naik motor pulang pergi kerja pun dua bola mata ini terasa lelah dan perih juga seperti ada sensasi terbakar.

Gangguan ini berlangsung cukup lama, karena kupikir apa yang kualami hanyalah akibat dari kurang tidur atau terlalu lama di depan layar. Toh selama ini juga mataku kembali nyaman melihat setelah istirahat cukup atau sehabis kuusap-usap dan mengedip-ngedipkannya.

“Kamu tuh ya, jangan disepelein, nanti kalau kenapa-kenapa gimana. Lebih baik diperiksa dulu aja,” kata ibu saat menegurku karena beliau terlalu sering melihatku mengucek-ucek mata. Ternyata, pengabaianku akan hal kecil tersebut berakibat cukup serius.

Inilah kisah pengalamanku yang mengalami gangguan mata akibat abai dengan gejala mata SePele dan suka menganggap diri sebagai dokter pribadi ini. semoga kisahku ini bisa dijadikan Pelajaran buat teman-teman pembaca semua agar lebih peduli dengan indra penglihatannya, terutama saat muncul gangguan kontinyu. Jangan sampai mengalami parah dulu baru panik cari solusinya.

Selamat membaca ya, jangan lupa istirahatkan mat ajika sudah lama di depan layar. Sayangi matamu karena dia begitu berharga.

Pulang Basamo ke Ranah Minang yang Sejak Lama Dirindukan

2024 lalu keluargaku akhirnya bisa ikut pulang basamo (pulang bersama) keluarga besar orang-orang Padang perantauan di Lampung. Kami sangat senang sekali karena sudah sangat lama tidak mencium bau tanah Ranah Minang. Terakhir kali pulang kampung itu saat aku masih duduk di bangku SMP. Aku pun sangat antusias. Sudah tidak sabar ingin mengeksplor alam Sumatera Barat sepuasnya, kangen masakan, kangen mandi di surau dan lona, serta kangen sanak saudara.



Alhamdulillah perjalanan pulang kampung lebih hemat waktu sejak ada Tol Trans Sumatera. Tidak sampai 24 jam kami sudah sampai di kampung halaman yang dirindukan sejak lama.

“Jangan kuat-kuat ngucek, nanti merah matanya,” tegur ibu.

Sesampai di Padang, tepatnya di desa Piliang Labuah, Batu Sangkar (rumah nenek), aku merasa mata sangat lelah, perih, dan terasa seperti ada selaput di bola mata yang menghalangi penglihatan. “Pasti gara-gara scroll hp terus di mobil dan kurang tidur,” batinku. Karena selama perjalanan aku memang banyak berinteraksi dengan layar ponsel dan sedikit tidur.

Alhamdulillah kondisi membaik setelah mandi. Aku pun makin yakin bahwa tidak ada yang serius dengan mataku yang kerap terasa perih, agak sepet, dan lelah itu.

Sehari setelah sampai di rumah nenek, keluargaku pergi ke Bukit Tinggi untuk mengunjungi kakak lelaki ibu. Sepulang bersilahturahmi, kami beserta keluarga Mamak Iwal (mamak: paman dalam bahasa Padang) pergi ke kawasan Jam Gadang dan Ngarai Sianok.

Sebagai pecinta alam, inilah momen yang paling happy. Terlebih aku bisa menikmati pesona wisata alam Sumatera Barat bersama keluarga besarku. Rasa syukur dan tak hentinya memuji Allah terus terucap ketika dua bola mata ini menyaksikan langsung keindahan alam di Ngarai Sianok.

Terbelalak dengan Pesona Alam di Ngarai Sianok

Kawasan wisata alam Ngarai Sianok yang memiliki landskap lembah curam dengan pemandangan memukau ini terletak sangat dekat dengan Jam Gadang.

Dari sumber informasi yang kubaca, Ngarai Sianok terbentuk akibat Patahan Semangko, yang membentang di sepanjang Pulau Sumatra. Kata “Sianok” yang artinya diam/sunyi adalah bahasa Minang, yang menggambarkan suasana alam tenang di sini. Di dasar lembahnya mengalir Batang Sianok, yakni sebuah sungai kecil berair jernih.


Ngarai Sianok

Dari tepi Taman Panorama, kita dapat melihat Janjang Koto Gadang, dikenal sebagai “Great Wall of Koto Gadang,” yang membentang di antara lembah hijau Ngarai Sianok. Aku bisa melihat sepuas mata memandang tebing-tebing curam yang menjulang tinggi ditemani pepohonan hijau lebat dan aliran sungai kecil di dasar lembah. Beruntungnya saat itu cuaca cerah, jadi aku pun bisa melihat Gunung Singgalang yang tampak berdiri gagah di kejauhan.


Keindahan Ngarai Sianok

MasyaAllah, pemandangan alam Ngarai sungguh membuat mataku terbelalak, rasanya tak puas-puas menatap. Saat menjelang senja kami pun beranjak pulang. Lagi-dan lagi aku merasakan mata mulai protes. Lelah, seperti ada sensasi mengantuk dan ganjalan di mata. Mungkin karena seharian berada di ruang terbuka, yang kadang di jalan disapa debu dan angin kencang.

Bertualang di Jalan Berliku Tajam Kelok 9

Kelok 9, sebuah jembatan ikonik di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Tikungan tajam di sepanjang jalannya memang tampak menantang. Namun, di balik itu ada suguhan pemandangan alam luar biasa yang sangat memanjakan mata.

Kelok 9 dikelilingi lembah hijau, hutan tropis lebat, dan tebing-tebing menjulang tinggi, yang seolah menjadi benteng pertahanan jalan. Suguhan alam ini sungguh membuat siapapun bakal terpukau. Selama di perjalanan mengelilingi kelokan, tanganku terus mengarahkan kamera ponsel merekam perjalanan luar biasa ini.


Jembatan Kelok 9

Kami berhenti sejenak di beberapa spot untuk menikmati kawasan ini lebih lama atau sekadar berfoto. Di pagi hari kawasan Kelok 9 yang diselimuti kabut tipis merupakan sebuah pemandangan eksotik. Sedangkan saat sore, area ini pun tak kalah memukau. Pantulan sinar matahari di antara tebing-tebingnya adalah salah satu keindahan alam yang spektakuler.

Sayangnya, mataku tampaknya tak kuat berlama-lama menatap sekeliling area Kelok 9. Tiba-tiba mata mulai perih seperti orang habis begadang. Tak hanya itu, mata juga terasa agak gatal. Bahkan di beberapa momen ketika aku ingin berfoto, hasilnya kurang memuaskan karena mataku tampak terpejam. Sepertinya terganggu dengan pantulan sinar matahari di sini.


Kelok 9

Kendati tidak bisa berfoto lebih maksimal, namun aku tetap bersyukur karena bisa secara langsung menikmati indahnya Kelok 9. InsyaAllah aku akan kembali lagi di waktu terbaik dengan kondisi yang lebih baik.

Awal Mula Rasa Cemas Mulai Menghantui

Kebanyakan orang suka mengabaikan gejala ringan yang muncul pada mata, tak terkecuali aku yang kerap meyakinkan diri “nanti juga sembuh sendiri.” Sayangnya, gejala mata sepele yang terus diabaikan dapat memperburuk kesehatan mata hingga mengarah pada kondisi serius. Hal inilah yang akhirnya kualami. Saat perjalanan kami ke Puncak Lawang yang berada di kawasan Danau Maninjau, Padang Panjang. Aku pun sangat excited. Isi kepala sudah membayangkan keseruan perjalanan ini, terutama view Danau Maninjau yang menakjubkan dari ketinggian di atas Puncak Lawang.


Puncak Lawang

Mobil kami melaju menyusuri jalan berkelok nanjak menuju ke Puncak Lawang berkelok nanjak. Selama perjalanan, kumanfaatkan waktu scoll ponsel untuk mencari informasi tentang Puncak Lawang, berbalas chat Whatsapp, dan unggah story jalan-jalan ke daerah dingin di Padang tersebut. Sesekali tangan mengusap mata karena sepertinya ada ganjalan di mata. Rasa seperti ada pasir halus yang membuatku ingin kucek-kucek mata terus. Dan…aku tetap memaksakan diri menatap ke layar ponsel.

Inilah awalnya...

Mata kiri seperti ditarik dan agak perih. "Ah paling capek karena liatin hp terus,” pikirku sambil kukucek dan sedikit membelalakan mata. Tapi beberapa menit kemudian kok makin aneh. Saat mata menatap view danau maninjau yang sudah mulai tampak dari kejauhan,….lah kok agak burem? Kukedipkan mata, buka, kedip lagi, tapi masih agak buram. Akhirnya, rasa cemas pun mulai menghantui pikiranku.

Saat tiba di Puncak Lawang, senyumku terukir puas menyaksikan betapa indahnya alam di sini. Terlebih saat kami naik makin k etas puncak. Tampilan Danau Maninjau yang tampak dari kejauhan di bawah sana begitu menakjubkan. banyak orang sibuk mem-videokan momen di sini dan banyak juga yang berfoto-foto dengan lata belakang Danau Maninjau.

Aku pun ikut sibuk merekam setiap sudut kawasan ini. aku juga sibuk foto-foto bersama keluargaku di beberapa tempat. Tapi lama-lama mata perihku kok nggak hilang-hilang dan sakit saat mata terkena sorot lampu ketika aku masuk ke toilet.

Aku ceritakan yang kualami pada ibu dan adik perempuanku, kaena jujur saja aku mulai panik. “Kemasukkan debu mungkin uni matanya,” kata adikku. Tapi rasanya bukan kemasukkan debu. Karena saat di toilet tadi aku cuci mata dengan air, tapi mata tetap perih.

Alhasil, momen kebersamaan di Puncak Lawang yang seharusnya seru dan menyenangkan jadi sedikit terganggu, lantaran rasa cemas karena gejala mata. foto-foto tidak puas. Dalam perjalanan pulang, aku kembali sibuk scroll hp, tapi kali ini Googling tentang kondisi mataku. Sayangnya, makin banyak baca justru makin membuatku dihantui rasa cemas. Akhirnya aku putuskan memejamkan mata, tidur sejenak. Berharap nanti saat sampai kondisinya sudah membaik.

Keesokan hari, ibu memaksaku memeriksakan mata ke RSUD Batusangkar. Setelah ditanya keluhan dan apa saja yang kualami, dokter melakukan pemeriksaan dengan. Aku diminta berkedip, lalu dilakukan tes cek air mata dengan cara menempelkan kertas tipis di ujung kelopak mata bawah dan memejamkan mata 5 menit. Setelah itu aku diminta meletakkan dagu di sebuah alat, lalu dokter menyalakan alatnya dan menyorot mataku dengan cahaya terangg.

Dokter merresepkan obat tetes mata untuk mengatasi keluhan mataku. Selain itu, dokter memintaku untuk mengatur screen time, banyak minum air putih, dan istirahat cukup. Dokter bilang aku terkena sindrom mata kering.

“Mata saya parah nggak, dok?” tanyaku.

Masih aman, tapi jika kebiasaan seperti berlama-lama main hp, lama di depan laptop, AC/kipas angin yang langsung ke mata, begadang, kurang minum dipelihara, itu lama-lama bisa membuat rabun permanen dan kerusakan serius pada mata. “Kebanyakan kasus mata kering sembuh dengan obat tetes dan ubah kebiassaan,” kurang lebih itu kata dokternya.

Astaghfirullah, seseram itu ternyata. Alhamdulillah ibu bersikeras membawaku ke dokter dan untungnya kedua bola mat aini masih bisa diselamatkan. Warning buat diriku, perih-perih sepele pada mata tidak boleh didiamkan jika masih ingin menyaksikan indahnya dunia ini.

Setelah mengikuti saran dokter, perlahan-lahan gejala mata kering berkurang. Kini, aku tak mau lagi diam saja saat mata mulai protes. Mata kering di bidang pekerjaanku yang banyak menghabiskan waktu di depan laptop dan ruang AC, memang tidak bisa dihindari, tidak mungkin juga aku langsung resign hanya karena hal itu. Yang bisa aku lakukan adalah melindungi kesehatan mata dengan menghindari penyebab/pemicunya. Setidaknya bisa meminimalkan risiko Gejala Mata Kering.

Pencegahaan dan Cara Mengatasi Mata Kering secara Mandiri

Dengan rutinitas digital dan ruang kerja berpendingin serta paparan angin, debu, dan polusi di luar rumah saat pulang pergi kerja pastinya tidak mudah membuat kita bisa #BebasMataKering begitu saja. Tetapi saat gejala mata kering seperti SEpet, PErih, Lelah (SePeLe) mulai muncul, jangan dibiarkan. #MataSePeLeJanganSepelein jika sayang pada ogan penglihatan kita.

Aku mulai menerapkan metode 20-20-20, yakni dnegan cara mengistirahatkan pandangan mata dari layar digital tiap 20 menit. Caranya dengan mengalihkan pandangan 20 detik ke objek berjarak 6 meter. Untuk mengingatkan, aku sengaja pasang alarm di HP. Selain itu, aku upayakan agar mata bekedip juga

Menurunkan  layar 10-15 dari garis mata juga sangat membantu, karena posisi agak nunduk akan membuat mata terbuka lebih kecil, sehingga air mata tidak mudah menguap.

Yang tak lupa juga, jangan langsung hadapkan AC/kipas angin ke arah mata. Jika Jangan hadepin AC/kipas langsung. Arahin ke atas atau ke kaki. Selain itu, aku juga berusaha cukup minum air putih, karena kalau dehidrasi, produksi air mata sedikit. Istirahat cukup janagn suka begadang jika tidak urgent. Dan yang tak kalah penting, pebanyak makan yang sehat seperti buah, kacang, atau yang mengandung omega 3.

Jika mata terasa lelah dan perih, aku kompres dengan handuk hangat selama 5-10 menit. Selain itu aku selalu siapkan obat tetes mata yang sudah terpercaya dan juga banyak dirrekomendasikan.

Yang terus coba kujaga konsistensinya adalah menerapkan digital detox saat libur atau weekend. Agak berat sih tidak scroll hp seharian, tapi demi menjaga mata, aku pun mengalah.

Berdasarkan saran dari dokter saat pemeriksaanku, agar mata tak berpotensi lebih parah, dokter menyarankan jangan sering kucek mata dan scroll hp di tempat gelap.

Sebenarnya Apa Sih Mata Kering Itu?

Kondisi mata yang terasa mengganjal, sepet, atau perih sering kali diabaikan oleh banyak orang. Inilah yang mengakibatkan banyak terjadinya kasus kerusakan mata serius.

Mengutip laman berita Suara Merdeka Bali, di Indonesia prevalensi mata kering cukup tinggi, sekitar 27,5 persen dari populasi.

Mata kering adalah kondisi di mana organ penglihatan kita tidak mampu memproduksi air mata dengan cukup, sehingga tidak dapat melumasi mata dengan sempurna.

Mengutip kanal YouTube Vio Optical Clinic, dr. Weni Puspitasai, Sp.M mengatakan, air mata punya 3 lapisan, yakni lipid (minyak), aqueous (air), dan mucin (lendir). Ketiganya berkerja baik dalam menjaga kelembaban mata agar tetap nyaman dan terlindungi dari iritasi maupun infeksi. Jika salah satu mengalami gangguan, misalnya berkurangnya produksi minyak, maka mata bisa kering.

Nah, ternyata salah satu keluhan yang sering terjadi pada mata kering adalah mata berair. Inilah yang kadang membuat kita salah paham.

Dikutip dari laman resmi insto.co.id, Mata SEpet (terasa berat, tegang, kurang nyaman saat melihat), PErih (sensasi terbakar atau seperti ada pasir di mata), Mata LElah (sulit fokus, merasa sering ngantuk, dan cepat lelah saat beraktivitas), adalah kondisi umum mata kering yang perlu diwaspadai.

Selain itu, jika pandangan terasa buram atau mata mulai sensitif terhadap cahaya, maka ini juga patut diwaspadai. Sebaiknya segera periksa ke dokte ahli. Gejala mata kering memang tidak bisa disepelekan, tetapi kita juga tetap bisa mencegah dan melindungi mata dengan cara mudah, kok.


Mata kering

Insto Dry Eyes: Solusi Atasi Mata Kering Secara Efektif tanpa Harus ke Dokter

Obat tetes mata INSTO DRY EYES, adalah obat tetes mata yang banyak dipakai orang Indonesia. Tak heran, jika stok di apotek atau minimarket kerap habis, lantaran banyak yang mencari si mungil yang cukup ampuh menyegarkan mata kembali ini.


Tetes mata Insto Dry Eyes

Nah, untungnya, saat aku sedang mencari obat tetes mata ke minimarket di dekat rumah, #InstoDryEyes langsung terlihat memikat karena tampilan new packagingnya yang lebih fresh dan menarik. Stok tersedia 3 buah dan aku ambil 2 kotak untuk persediaan di rumah.


Insto Dry Eyes New Packaging


Kenapa harus Insto Dry Eyes?

Karena obat tetes mata ini dirancang sebagai pelembab tambahan hingga meringankan iritasi, yang diakibatkan gangguan mata kering. Dengan formula khususnya, obat tetes mata ini membantu dalam:

1.     Mengatasi mata kering akibat paparan layar digital terlalu lama.

2.     Menjaga kelembapan alami mata

3.     Meredakan iritasi mata ringan dan ketidaknyamanan saat berkedip

 

Jujur, aku pribadi cukup puas menggunakan produk ini karena memang telah terbukti membantu gangguan mata kering kualami. Cukup beberapa tetes, mata kembali segar.

Mengutip informasi di laman resmi insto.co.id, obat tetes mata Insto Dry Eyes memiliki kandungan bahan aktif utama, hydroxypropyl methylcellulose 3.0 mg dan Benzalkonium Chloride 0.1 mg.


Insto Dry Eyes

Insto Dry Eyes

Aturan Pakai Insto Dry Eyes

1.     Cuci bersih tangan sebelum menggunakan Insto Dry Eyes.

2.     Jika memakai lensa kontak, lepaskan dulu sebelum meneteskan obat.

3.     Dongakkan kepala ke arah belakang dan tarik kelopak mata bawah, lalu teteskan 1–2 tetes Insto Dry Eyes pada mata.

4.     Kemudian tutup mata dan tekan ujung mata di dekat hidung selama 2–3 menit agar obat dapat meresap maksimal.

5.     Jangan menggosok atau menekan mata agar obat tetes bekerja optimal.

6.     Untuk hasil terbaik, gunakan 3 kali sehari atau sesuai petunjuk dokter.

7.     Jangan dipakai setelah kemasan dibuka 1 bulan.

 

Jangan biarkan gejala mata kering mencuri momen berhargamu. Yuk, mulai sekarang jangan lagi menyepelekan gejala mata kering. Segera atasi dengan Insto Dry Eyes agar mata kembali segar. ye

Referensi:

  1. https://primayahospital.com/umum/mata-kering/ (Diakses 2 Agustus 2026)
  2. https://www.alodokter.com/mata-kering (Diakses 2 Agustus 2026)
  3. https://insto.co.id/produk/insto-dry-eyes
  4. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/559/kenapa-mata-bisa-terasa-kering-yaa (Diakses 27 Juli 2026)
  5. https://ieceyecare.com/news/7-ciri-ciri-mata-kering-yang-wajib-anda-ketahui-sebelum-terlambat/ (diakses 5 Agustus 2026)
  6. https://www.google.com/amp/s/bali.suaramerdeka.com/kesehatan/amp/82415612322/prevalensi-mata-kering-di-indonesia-capai-275-persen-masyarakat-usia-lebih-dari-50-tahun-jadi-paling-rentan (diakses 5 Agustus 2026)

 


Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

Posting Komentar

 
Top