Jujur,
aku termasuk tipe orang yang suka menganggap sepele ketika di tubuh ada
gangguan kecil. Salah satunya saat mataku terasa lelah, perih, atau kering.
“Pasti karena kurang tidur nih.” Itulah sebait kalimat yang jadi andalan setiap
kali mata mulai protes. Kebetulan aku memang sering tidur larut untuk
menyelesaikan pekerjaan atau sekadar marathon nonton dracin favorit.
Mata
kadang seperti ada selaput dan agak gatal saat bangun tidur, kadang baru
beberapa jam di depan laptop mata rasanya perih, dan saat naik motor pulang
pergi kerja pun dua bola mata ini terasa lelah dan perih juga seperti ada
sensasi terbakar.
Gangguan
ini berlangsung cukup lama, karena kupikir apa yang kualami hanyalah akibat
dari kurang tidur atau terlalu lama di depan layar. Toh selama ini juga mataku
kembali nyaman melihat setelah istirahat cukup atau sehabis kuusap-usap dan
mengedip-ngedipkannya.
“Kamu
tuh ya, jangan disepelein, nanti kalau kenapa-kenapa gimana. Lebih baik
diperiksa dulu aja,” kata ibu saat menegurku karena beliau terlalu sering
melihatku mengucek-ucek mata. Ternyata, pengabaianku akan hal kecil tersebut
berakibat cukup serius.
Inilah
kisah pengalamanku yang mengalami gangguan mata akibat abai dengan gejala mata
SePele dan suka menganggap diri sebagai dokter pribadi ini. semoga kisahku ini
bisa dijadikan Pelajaran buat teman-teman pembaca semua agar lebih peduli
dengan indra penglihatannya, terutama saat muncul gangguan kontinyu. Jangan
sampai mengalami parah dulu baru panik cari solusinya.
Selamat
membaca ya, jangan lupa istirahatkan mat ajika sudah lama di depan layar.
Sayangi matamu karena dia begitu berharga.
Pulang Basamo ke Ranah Minang yang
Sejak Lama Dirindukan
2024
lalu keluargaku akhirnya bisa ikut pulang basamo (pulang bersama) keluarga
besar orang-orang Padang perantauan di Lampung. Kami sangat senang sekali
karena sudah sangat lama tidak mencium bau tanah Ranah Minang. Terakhir kali
pulang kampung itu saat aku masih duduk di bangku SMP. Aku pun sangat antusias.
Sudah tidak sabar ingin mengeksplor alam Sumatera Barat sepuasnya, kangen
masakan, kangen mandi di surau dan lona, serta kangen sanak saudara.
Alhamdulillah
perjalanan pulang kampung lebih hemat waktu sejak ada Tol Trans Sumatera. Tidak
sampai 24 jam kami sudah sampai di kampung halaman yang dirindukan sejak lama.
“Jangan
kuat-kuat ngucek, nanti merah matanya,” tegur ibu.
Sesampai
di Padang, tepatnya di desa Piliang Labuah, Batu Sangkar (rumah nenek), aku merasa
mata sangat lelah, perih, dan terasa seperti ada selaput di bola mata yang
menghalangi penglihatan. “Pasti gara-gara scroll hp terus di mobil dan kurang
tidur,” batinku. Karena selama perjalanan aku memang banyak berinteraksi dengan
layar ponsel dan sedikit tidur.
Alhamdulillah
kondisi membaik setelah mandi. Aku pun makin yakin bahwa tidak ada yang serius
dengan mataku yang kerap terasa perih, agak sepet, dan lelah itu.
Sehari
setelah sampai di rumah nenek, keluargaku pergi ke Bukit Tinggi untuk
mengunjungi kakak lelaki ibu. Sepulang bersilahturahmi, kami beserta keluarga
Mamak Iwal (mamak: paman dalam bahasa Padang) pergi ke kawasan Jam Gadang dan
Ngarai Sianok.
Sebagai
pecinta alam, inilah momen yang paling happy. Terlebih aku bisa menikmati
pesona wisata alam Sumatera Barat bersama keluarga besarku. Rasa syukur dan tak
hentinya memuji Allah terus terucap ketika dua bola mata ini menyaksikan
langsung keindahan alam di Ngarai Sianok.
Terbelalak dengan Pesona Alam di Ngarai
Sianok
Kawasan
wisata alam Ngarai Sianok yang memiliki landskap lembah curam dengan
pemandangan memukau ini terletak sangat dekat dengan Jam Gadang.
Dari
sumber informasi yang kubaca, Ngarai Sianok terbentuk akibat Patahan Semangko,
yang membentang di sepanjang Pulau Sumatra. Kata “Sianok” yang artinya
diam/sunyi adalah bahasa Minang, yang menggambarkan suasana alam tenang di sini.
Di dasar lembahnya mengalir Batang Sianok, yakni sebuah sungai kecil berair
jernih.
Dari
tepi Taman Panorama, kita dapat melihat Janjang Koto Gadang, dikenal sebagai
“Great Wall of Koto Gadang,” yang membentang di antara lembah hijau Ngarai
Sianok. Aku bisa melihat sepuas mata memandang tebing-tebing curam yang
menjulang tinggi ditemani pepohonan hijau lebat dan aliran sungai kecil di
dasar lembah. Beruntungnya saat itu cuaca cerah, jadi aku pun bisa melihat
Gunung Singgalang yang tampak berdiri gagah di kejauhan.
MasyaAllah,
pemandangan alam Ngarai sungguh membuat mataku terbelalak, rasanya tak
puas-puas menatap. Saat menjelang senja kami pun beranjak pulang. Lagi-dan lagi
aku merasakan mata mulai protes. Lelah, seperti ada sensasi mengantuk dan
ganjalan di mata. Mungkin karena seharian berada di ruang terbuka, yang kadang
di jalan disapa debu dan angin kencang.
Bertualang di Jalan Berliku Tajam Kelok
9
Kelok
9, sebuah jembatan ikonik di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Tikungan tajam di sepanjang jalannya memang tampak menantang. Namun, di balik
itu ada suguhan pemandangan alam luar biasa yang sangat memanjakan mata.
Kelok
9 dikelilingi lembah hijau, hutan tropis lebat, dan tebing-tebing menjulang
tinggi, yang seolah menjadi benteng pertahanan jalan. Suguhan alam ini sungguh
membuat siapapun bakal terpukau. Selama di perjalanan mengelilingi kelokan, tanganku
terus mengarahkan kamera ponsel merekam perjalanan luar biasa ini.
Kami
berhenti sejenak di beberapa spot untuk menikmati kawasan ini lebih lama atau
sekadar berfoto. Di pagi hari kawasan Kelok 9 yang diselimuti kabut tipis merupakan
sebuah pemandangan eksotik. Sedangkan saat sore, area ini pun tak kalah
memukau. Pantulan sinar matahari di antara tebing-tebingnya adalah salah satu
keindahan alam yang spektakuler.
Sayangnya,
mataku tampaknya tak kuat berlama-lama menatap sekeliling area Kelok 9.
Tiba-tiba mata mulai perih seperti orang habis begadang. Tak hanya itu, mata
juga terasa agak gatal. Bahkan di beberapa momen ketika aku ingin berfoto,
hasilnya kurang memuaskan karena mataku tampak terpejam. Sepertinya terganggu
dengan pantulan sinar matahari di sini.
Kendati
tidak bisa berfoto lebih maksimal, namun aku tetap bersyukur karena bisa secara
langsung menikmati indahnya Kelok 9. InsyaAllah aku akan kembali lagi di waktu
terbaik dengan kondisi yang lebih baik.
Awal Mula Rasa Cemas Mulai Menghantui
Kebanyakan
orang suka mengabaikan gejala ringan yang muncul pada mata, tak terkecuali aku
yang kerap meyakinkan diri “nanti juga sembuh sendiri.” Sayangnya, gejala mata
sepele yang terus diabaikan dapat memperburuk kesehatan mata hingga mengarah
pada kondisi serius. Hal inilah yang akhirnya kualami. Saat perjalanan kami ke
Puncak Lawang yang berada di kawasan Danau Maninjau, Padang Panjang. Aku pun
sangat excited. Isi kepala sudah membayangkan keseruan perjalanan ini, terutama
view Danau Maninjau yang menakjubkan dari ketinggian di atas Puncak Lawang.
Mobil
kami melaju menyusuri jalan berkelok nanjak menuju ke Puncak Lawang berkelok
nanjak. Selama perjalanan, kumanfaatkan waktu scoll ponsel untuk mencari
informasi tentang Puncak Lawang, berbalas chat Whatsapp, dan unggah story jalan-jalan
ke daerah dingin di Padang tersebut. Sesekali tangan mengusap mata karena
sepertinya ada ganjalan di mata. Rasa seperti ada pasir halus yang membuatku
ingin kucek-kucek mata terus. Dan…aku tetap memaksakan diri menatap ke layar
ponsel.
Inilah
awalnya...
Mata
kiri seperti ditarik dan agak perih. "Ah paling capek karena liatin hp terus,”
pikirku sambil kukucek dan sedikit membelalakan mata. Tapi beberapa menit
kemudian kok makin aneh. Saat mata menatap view danau maninjau yang sudah mulai
tampak dari kejauhan,….lah kok agak burem? Kukedipkan mata, buka, kedip lagi,
tapi masih agak buram. Akhirnya, rasa cemas pun mulai menghantui pikiranku.
Saat
tiba di Puncak Lawang, senyumku terukir puas menyaksikan betapa indahnya alam
di sini. Terlebih saat kami naik makin k etas puncak. Tampilan Danau Maninjau
yang tampak dari kejauhan di bawah sana begitu menakjubkan. banyak orang sibuk
mem-videokan momen di sini dan banyak juga yang berfoto-foto dengan lata
belakang Danau Maninjau.
Aku
pun ikut sibuk merekam setiap sudut kawasan ini. aku juga sibuk foto-foto
bersama keluargaku di beberapa tempat. Tapi lama-lama mata perihku kok nggak
hilang-hilang dan sakit saat mata terkena sorot lampu ketika aku masuk ke
toilet.
Aku
ceritakan yang kualami pada ibu dan adik perempuanku, kaena jujur saja aku
mulai panik. “Kemasukkan debu mungkin uni matanya,” kata adikku. Tapi rasanya
bukan kemasukkan debu. Karena saat di toilet tadi aku cuci mata dengan air,
tapi mata tetap perih.
Alhasil,
momen kebersamaan di Puncak Lawang yang seharusnya seru dan menyenangkan jadi sedikit
terganggu, lantaran rasa cemas karena gejala mata. foto-foto tidak puas. Dalam
perjalanan pulang, aku kembali sibuk scroll hp, tapi kali ini Googling tentang
kondisi mataku. Sayangnya, makin banyak baca justru makin membuatku dihantui
rasa cemas. Akhirnya aku putuskan memejamkan mata, tidur sejenak. Berharap nanti
saat sampai kondisinya sudah membaik.
Keesokan
hari, ibu memaksaku memeriksakan mata ke RSUD Batusangkar. Setelah ditanya
keluhan dan apa saja yang kualami, dokter melakukan pemeriksaan dengan. Aku diminta
berkedip, lalu dilakukan tes cek air mata dengan cara menempelkan kertas tipis
di ujung kelopak mata bawah dan memejamkan mata 5 menit. Setelah itu aku
diminta meletakkan dagu di sebuah alat, lalu dokter menyalakan alatnya dan
menyorot mataku dengan cahaya terangg.
Dokter
merresepkan obat tetes mata untuk mengatasi keluhan mataku. Selain itu, dokter
memintaku untuk mengatur screen time, banyak minum air putih, dan istirahat
cukup. Dokter bilang aku terkena sindrom mata kering.
“Mata
saya parah nggak, dok?” tanyaku.
Masih
aman, tapi jika kebiasaan seperti berlama-lama main hp, lama di depan laptop,
AC/kipas angin yang langsung ke mata, begadang, kurang minum dipelihara, itu
lama-lama bisa membuat rabun permanen dan kerusakan serius pada mata. “Kebanyakan
kasus mata kering sembuh dengan obat tetes dan ubah kebiassaan,” kurang lebih
itu kata dokternya.
Astaghfirullah,
seseram itu ternyata. Alhamdulillah ibu bersikeras membawaku ke dokter dan
untungnya kedua bola mat aini masih bisa diselamatkan. Warning buat diriku, perih-perih
sepele pada mata tidak boleh didiamkan jika masih ingin menyaksikan indahnya
dunia ini.
Setelah
mengikuti saran dokter, perlahan-lahan gejala mata kering berkurang. Kini, aku
tak mau lagi diam saja saat mata mulai protes. Mata kering di bidang
pekerjaanku yang banyak menghabiskan waktu di depan laptop dan ruang AC, memang
tidak bisa dihindari, tidak mungkin juga aku langsung resign hanya karena hal
itu. Yang bisa aku lakukan adalah melindungi kesehatan mata dengan menghindari
penyebab/pemicunya. Setidaknya bisa meminimalkan risiko Gejala Mata Kering.
Pencegahaan dan Cara Mengatasi Mata
Kering secara Mandiri
Dengan
rutinitas digital dan ruang kerja berpendingin serta paparan angin, debu, dan
polusi di luar rumah saat pulang pergi kerja pastinya tidak mudah membuat kita
bisa #BebasMataKering begitu saja. Tetapi saat gejala mata kering seperti SEpet,
PErih, Lelah (SePeLe) mulai muncul, jangan dibiarkan. #MataSePeLeJanganSepelein
jika sayang pada ogan penglihatan kita.
Aku
mulai menerapkan metode 20-20-20, yakni dnegan cara mengistirahatkan pandangan
mata dari layar digital tiap 20 menit. Caranya dengan mengalihkan pandangan 20
detik ke objek berjarak 6 meter. Untuk mengingatkan, aku sengaja pasang alarm
di HP. Selain itu, aku upayakan agar mata bekedip juga
Menurunkan
layar 10-15 dari garis mata juga sangat
membantu, karena posisi agak nunduk akan membuat mata terbuka lebih kecil,
sehingga air mata tidak mudah menguap.
Yang
tak lupa juga, jangan langsung hadapkan AC/kipas angin ke arah mata. Jika Jangan
hadepin AC/kipas langsung. Arahin ke atas atau ke kaki. Selain itu, aku juga
berusaha cukup minum air putih, karena kalau dehidrasi, produksi air mata
sedikit. Istirahat cukup janagn suka begadang jika tidak urgent. Dan yang tak
kalah penting, pebanyak makan yang sehat seperti buah, kacang, atau yang
mengandung omega 3.
Jika
mata terasa lelah dan perih, aku kompres dengan handuk hangat selama 5-10 menit.
Selain itu aku selalu siapkan obat tetes mata yang sudah terpercaya dan juga
banyak dirrekomendasikan.
Yang
terus coba kujaga konsistensinya adalah menerapkan digital detox saat libur
atau weekend. Agak berat sih tidak scroll hp seharian, tapi demi menjaga mata,
aku pun mengalah.
Berdasarkan
saran dari dokter saat pemeriksaanku, agar mata tak berpotensi lebih parah, dokter
menyarankan jangan sering kucek mata dan scroll hp di tempat gelap.
Sebenarnya Apa Sih Mata Kering Itu?
Kondisi
mata yang terasa mengganjal, sepet, atau perih sering kali diabaikan oleh
banyak orang. Inilah yang mengakibatkan banyak terjadinya kasus kerusakan mata
serius.
Mengutip
laman berita Suara Merdeka Bali, di Indonesia prevalensi mata kering cukup
tinggi, sekitar 27,5 persen dari populasi.
Mata kering adalah kondisi di mana organ
penglihatan kita tidak mampu memproduksi air mata dengan cukup, sehingga tidak
dapat melumasi mata dengan sempurna.
Mengutip kanal YouTube Vio Optical Clinic, dr.
Weni Puspitasai, Sp.M mengatakan, air mata punya 3 lapisan, yakni lipid
(minyak), aqueous (air), dan mucin (lendir). Ketiganya berkerja baik dalam
menjaga kelembaban mata agar tetap nyaman dan terlindungi dari iritasi maupun
infeksi. Jika salah satu mengalami gangguan, misalnya berkurangnya produksi
minyak, maka mata bisa kering.
Nah, ternyata salah satu keluhan yang sering
terjadi pada mata kering adalah mata berair. Inilah yang kadang membuat kita salah
paham.
Dikutip dari laman resmi insto.co.id, Mata
SEpet (terasa berat, tegang, kurang nyaman saat melihat), PErih (sensasi
terbakar atau seperti ada pasir di mata), Mata LElah (sulit fokus, merasa sering
ngantuk, dan cepat lelah saat beraktivitas), adalah kondisi umum mata kering
yang perlu diwaspadai.
Selain itu, jika pandangan terasa buram atau mata mulai sensitif terhadap cahaya, maka ini juga patut diwaspadai. Sebaiknya segera periksa ke dokte ahli. Gejala mata kering memang tidak bisa disepelekan, tetapi kita juga tetap bisa mencegah dan melindungi mata dengan cara mudah, kok.
Insto
Dry Eyes: Solusi Atasi Mata Kering Secara Efektif tanpa Harus ke Dokter
Obat tetes mata INSTO DRY EYES, adalah obat
tetes mata yang banyak dipakai orang Indonesia. Tak heran, jika stok di apotek
atau minimarket kerap habis, lantaran banyak yang mencari si mungil yang cukup
ampuh menyegarkan mata kembali ini.
Nah, untungnya, saat aku sedang mencari obat
tetes mata ke minimarket di dekat rumah, #InstoDryEyes langsung terlihat
memikat karena tampilan new packagingnya yang lebih fresh dan menarik. Stok
tersedia 3 buah dan aku ambil 2 kotak untuk persediaan di rumah.
Kenapa
harus Insto Dry Eyes?
Karena obat tetes mata ini dirancang sebagai
pelembab tambahan hingga meringankan iritasi, yang diakibatkan gangguan mata
kering. Dengan formula khususnya, obat tetes mata ini membantu dalam:
1. Mengatasi mata kering akibat paparan layar
digital terlalu lama.
2. Menjaga kelembapan alami mata
3. Meredakan iritasi mata ringan dan
ketidaknyamanan saat berkedip
Jujur,
aku pribadi cukup puas menggunakan produk ini karena memang telah terbukti
membantu gangguan mata kering kualami. Cukup beberapa tetes, mata kembali segar.
Mengutip informasi di laman resmi insto.co.id, obat tetes mata Insto Dry Eyes memiliki kandungan bahan aktif utama, hydroxypropyl methylcellulose 3.0 mg dan Benzalkonium Chloride 0.1 mg.
Aturan
Pakai Insto Dry Eyes
1. Cuci bersih tangan sebelum menggunakan Insto
Dry Eyes.
2. Jika memakai lensa kontak, lepaskan dulu
sebelum meneteskan obat.
3. Dongakkan kepala ke arah belakang dan tarik
kelopak mata bawah, lalu teteskan 1–2 tetes Insto Dry Eyes pada mata.
4. Kemudian tutup mata dan tekan ujung mata di
dekat hidung selama 2–3 menit agar obat dapat meresap maksimal.
5. Jangan menggosok atau menekan mata agar obat
tetes bekerja optimal.
6. Untuk hasil terbaik, gunakan 3 kali sehari
atau sesuai petunjuk dokter.
7. Jangan dipakai setelah kemasan dibuka 1 bulan.
Jangan biarkan gejala mata kering mencuri momen berhargamu. Yuk, mulai sekarang jangan lagi menyepelekan gejala mata kering. Segera atasi dengan Insto Dry Eyes agar mata kembali segar. ye
Referensi:
- https://primayahospital.com/umum/mata-kering/ (Diakses 2 Agustus 2026)
- https://www.alodokter.com/mata-kering (Diakses 2 Agustus 2026)
- https://insto.co.id/produk/insto-dry-eyes
- https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/559/kenapa-mata-bisa-terasa-kering-yaa (Diakses 27 Juli 2026)
- https://ieceyecare.com/news/7-ciri-ciri-mata-kering-yang-wajib-anda-ketahui-sebelum-terlambat/ (diakses 5 Agustus 2026)
- https://www.google.com/amp/s/bali.suaramerdeka.com/kesehatan/amp/82415612322/prevalensi-mata-kering-di-indonesia-capai-275-persen-masyarakat-usia-lebih-dari-50-tahun-jadi-paling-rentan (diakses 5 Agustus 2026)


.jpg)
.jpg)


.jpg)





Posting Komentar