6



Judul Buku      : Hafidz Rumahan
Penulis             : Neny Suswaty
Penerbit           : AURA Publishing
Editor              : Rosyidin
Tebal               : 200 halaman
Cetakan           : Februari 2019
ISBN               : 978-623-211-033-5
Harga              : Rp65.000

“Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban
mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan padanya.
Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikanmu kepadanya
serta ketaatannya pada dirimu.” (Abdullah bin Umar r.a)

Resensi Buku “Hafidz Rumahan” Karya Neny Suswati – Sejatinya pendidikan dan pengajaran anak sepenuhnya menjadi tanggungjawab orangtua, bahwa merekalah yang harus menangani dan terlibat langsung dengan proses pembentukan karakter utamanya. Sedangkan institusi pendidikan hanyalah sebagai pelengkap atau partner dalam proses pendidikan itu sendiri. Namun sayangnya masih banyak persepsi yang menganggap bahwa tempat terbaik pertama untuk pendidikan anak-anaknya, adalah melalui lembaga pendidikan beserta para pakar pendidiknya. Sehingga banyak orangtua yang cenderung menyerahkan semua urusan pendidikan, dan pengajaran anak kepada para pendidik di lembaga-lembaga terkait. Sedangkan peran orangtua hanyalah sebagai fasilitator.

Tak bisa dipungkiri bahwa generasi saat ini banyak yang terjebak dalam kasus dekadensi moral. Inilah potret buram generasi era modernisasi, dimana banyak dari mereka yang menjadi generasi minim karakter kuat, yang hanya mampu menjadi generasi tawuran, narkoba, pergaulan bebas, pemalas, dan minus etika.

Fenomena ini pun semakin serius seiring dengan kemajuan teknologi. Bagaimana tidak? Serangan masif kemajuan teknologi serta daya tarik yang dibawanya, telah menjadi medan magnet kuat yang mengalihkan minat dan perhatian anak-anak. Terlebih anak-anak di zaman ini terlihat begitu cerdasnya. Mereka mudah sekali akrab dan memahami apapun yang berhubungan dengan teknologi. Namun jika teknologi tidak digunakan secara bijak, maka ia hanya akan menjadi pengaruh buruk. Karena ibarat dua mata pisau, ia memberi banyak manfaat sekaligus dampak buruk.  Yang lebih memprihatinkan, banyak generasi yang kini semakin jauh dari Al-Qur’an, bahkan banyak yang tidak bisa membacanya.

Ahmad Hanzalah, Putra ustadz Abdurrohim
hafidz usia 6 athun
source: @puspafajar
Kondisi generasi seperti inilah yang pada akhirnya menjadi pertimbangan pasangan suami istri asal Pulau Nias, Ramlan Dalimunthe dan Sri Maharani Hasibuan untuk mulai menerapkan pola pendidikan anak-anaknya secara sunah, sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam mendidik anak. Karena salah satu faktor yang menyebabkan anak berprilaku buruk dan melakukan penyelewangan lainnya, kebanyakan disebabkan oleh kurangnya kedekatan dan lengahnya orangtua dalam mengarahkan pendidikan anaknya.

Ibu adalah Al Umm madrosatul ‘ula; ibu adalah sekolah pertama dan utama. Sedangkan ayah adalah pemimpin, pembimbing dan juga yang betugas mencari rizki halal bagi keluarganya. Pemahaman akan hal ini akhirnya menyatukan visi dan misi hidup mereka dalam satu pemikiran, yaitu berusaha menjadi orangtua yang mampu mempertanggungjawabkan segalanya kelak di hadapan Allah ta’ala. Mereka ingin anak-anaknya menjadi generasi rabbani, generasi Qur’ani.

“Abdurrohim dan Siti Hajar sepakat, bahwa mereka berdua harus saling bahu-membahu dalam upaya melaksanakan perintah Allah SWT, menjaga keluarga mereka dari murka Allah SWT yang berujung pada siksa neraka karena durhaka kepada Allah SWT” (hal:42)

Mendidik anak menjadi hafidz dan hafidzoh telah menjadi prioritas keluarga asal Pulau Nias ini. Berbagai perbaikan, mulai dari penggantian nama, kebiasaan, cara berpakaian pun mereka lakukan. Dan yang terpenting adalah mengkaji dan memperdalam ilmu agama untuk bekal mendidik anak-anaknya tentang aqidah Islam.

Neny Suswati, penulis "Hafidz Rumahan"

Dalam buku ini penulis menjabarkan secara detail tentang bagaimana perjuangan keluarga ustadz Abdurrohim dalam menanamkan rasa cinta tertinggi pada Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya kepada anak-anaknya. Semua itu sungguh bukan hal yang mudah. Karena baik ustadz Abdurrohim maupun Siti Hajar, mereka bukanlah pasangan yang kaya akan ilmu agama. Mereka bukan lulusan Pondok atau pun pernah mengenyam pendidikan di Pesantren.

“Bukan hal mudah, keduanya bukan hafidz Al-Qur’an, bahkan hampir bisa dikatakan, Siti Hajar belajar membaca Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh saat sudah memiliki 2 orang anak, bahkan belajar bersamaan dengan mengajari anak pertamanya. Tetapi tekadnya yang kuat tidak menyurutkan langkahnya.” (hal: 44)

Di sinilah letak keistimewaan keluarga ini dalam mendidik anak-anaknya menjadi generasi yang menjaga kalam-Nya. Dan semua itu dilakukan sendiri oleh sang Ibu, Siti Hajar, yang selalu semangat dan sabar dalam mendidik buah hatinya, menjadi generasi yang dirindu dunia dan di damba surga. Berkat kegigihan, keyakinan, dan kesabaran inilah 7 dari 8 anaknya telah hafidz di usia yang masih sangat belia, 5-12 tahun. Sedangkan anaknya yang paling kecil sedang dalam proses menghafal. MasyaAllah.

Bagaiman bisa seorang Ibu yang hanya berbekal ijasah SMA mampu menjadikan anak-anaknya begitu mulia di mata Allah? Bagaimana cara dan apa metodenya? Jawabanya adalah keyakinan dan iman yang begitu kuat kepada Allah ta’ala telah menjadi energi besar, yang membuka jalan serta mempermudah setiap ikhtiar yang dilakukan Siti Hajar.

“…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah SWT, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar. Dan Dia memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka… (QS. Ath-Thalak:2-3)

Membaca buku ini akan membuat kita banyak tercengang kagum dengan pilihan hidup yang diambil ustadz Abdurrohim dan Siti Hajar. Terutama tentang pilihannya untuk hidup sederhana. Bahkan mereka berusaha tidak bersentuhan dengan teknologi agar bisa lebih fokus dengan visi dan misi hidupnya. Tak hanya itu, kisah perjalanan keluarga awam ini dalam mewujudkan hidup sesuai ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, akan membuka mata kita bahwa mendidik anak menjadi penghapal Al-Qur’an bisa di wujudkan oleh siapapun. Bahwa para hafidz tidaklah melulu berasa dari keluarga ulama, pendakwa atau mereka yang lulusan pesantren saja. Dan satu hal yang tak kalah penting dari mengikuti kisah kelurga ustadz Abdurrohim ini adaah bahwa keterbatasan bukanlah penghalang meraih kehidupan yang sukses dunia akhirat.

Keunggulan Buku

Buku ini ditulis bukan hanya sekadar hasil wawancara singkat untuk mendapatkan data. Tetapi buku ini disusun atas pengalaman dan interaksi langsung sang penulis, yang menetap beberapa hari di rumah ustad Abdurrohim, dan melihaat keseharian mereka. Sehingga bisa dikatakan bahwa buku ini benar-benar memiliki “ruh, yang mampu membawa pembaca turut hanyut dalam setiap kisah yang dibawakan sang penulis.

Kisah dalam buku ini dibawakan dengan bahasa yang mudah dicerna. Sehingga pembaca mudah memahami isi dan maksudnya. Selain itu sang penulis juga menyertakan beberapa kutipan ayat Al-Qur’an, hadits, kosa kata Arab, serta kisah para sahabat Nabi, yang semakin menambah khasanah pengetahuan pembaca. Pemilihan cover berwarna hijau juga sangat cocok dengan isi yang menceritakan tentang kisah perjalanan hidup serta kesederhanaan keluarga ini.

Kekurangan Buku

Tidak ada karya yang sempurna. Karena kesempurnaan itu mutlak milik-Nya. Begitu pun dengan karya ini. Di beberapa halaman masih terdapat typo dan ketidaknyamanan saat membaca. Karena ada paragrap yang rasanya tidak sinkron. Selain itu foto-foto yang dilampirkan membuat pembaca berusaha agak keras untuk dapat melihat jelas apa yang ada di dalamnya. Karena foto-foto tersebut tercetak tidak berwarna.

Rekomendasi

Buku ini sangat direkomendasikan sekali untuk dimiliki dan dibaca keluarga Muslim. Terutama yang berkeinginan untuk menjadikan anak-anaknya para generasi penghapal Al-Qur’an. Karena dalam buku ini akan ditemukan banyak inspirasi tentang bagaimana cara pengajaran seorang Ibu sederhana dalam ikhtiarnya menjadikan anak-anaknya hafidz dan hafidzoh.


Posting Komentar

  1. Keluarga penghafal Qur'an... Ini nih yang harus dicontoh dalam misi keluarga muslim. Peran orang tua dalam mendidik ternyata lebih utama ya.

    BalasHapus
  2. Bener banget. Terutama di zaman sekarang yang banyak fitnah dan godaan. Semoga kita juga mampu menjadi keluarga yang menjaga kalam Allah. Aamiin

    BalasHapus
  3. nice resensinya rapih dan memotivasi

    BalasHapus
  4. Buku ini banyak mengingatkan. Terutama orang tua. Kadang orang tua suka lupa bahwa mencintai anak gak melulu tentang materi. Suka banget dengan buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak buku ini beda banget auranya. Banyak hikmah yang bisa diambil.

      Hapus

Sukacita Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah

Source: Canva Allahu akbar Allahubakbar, laa illaha illallahuwaallaahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. Senandung takbir tela...

 
Top