1
Sexy Killers

Film dokumenter Sexy Killers yang didistribusikan rumah produksi Watcdoc ini berkisah tentang bagaimana fakta kelam dibalik terang benderangnya listrik di negeri ini. Sexy Killers menyuguhkan fakta2 yang didapat para crew selama investigasi yang dilakukan kurang lebih dalam waktu setahun ke daerah penambangan batu bara. Terutama yang berada di Pulau Kalimantan.

Film Sexy Killers diawali dengan sedikit adegan provokatif, yaitu adegan pasangan yang sedang menikmati bulan madu di sebuah kamar hotel, yang menjelaskan berapa jumlah pemakaian listrik pasangan tesebut untuk sehari. Selanjutnya dijelaskan dari mana dan bagaimana listrik itu bisa dinikmati masyarakat.

Salah satu bahan baku utama pembangkit listrik itu adalah Batu bara. Bahan ini disediakan oleh banyak perusahaan pembangkit listrik dalam memenuhi kebutuhan listrik tanah air. Namun kisah dibalik penambangan batu bara ternyata telah banyak menimbulkan kerusakan. Tak hanya alam. Tetapi hal ini berdampak signifikan terhadap kehidupan manusia di sekitar area penambangan. Bahkan aktivitas penambangan batu bara telah merenggut banyak korban jiwa. Mirisnya, lagi-lagi korban yang paling menderita kerugian adalah rakyat kecil😭.

Tangkap layar
film Sexy Killers

Rakyat sekitar area penambangan mengalami krisis air bersih, baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk pertanian. Hal ini juga berdampak pada penyebaran penyakit karena warga terpaksa harus mengkonsumsi air keruh yang sebagian telah terkontaminasi akibat penambangan. Lubang-lubang bekas penambangan pun telah menjadi lubang kematian, yang telah merenggut nyawa yang tak sedikit. Terutama anak-anak. Mirisnya Gubernur Kalimantan, Isran Noor mengeluarkan pernyataan  yang seolah hal itu biasa saja, "Memang sudah takdirnya meninggal di tempat itu" begitulah kira-kira jawabanya saat dimintai keterangan tentang banyaknya korban jiwa akibat proses penambangan.

Tangkap layar
film Sexy Killers

Dampak proses penambangan batu bara dan pembangunan PLTU di beberapa lokasi di Indonesia tidak hanya dirasakan warga Kalimantan Timur. Contoh lainnya adalah PLTU Batang di Jawa Tengah yang membutuhan batu bara yang besar untuk pengoprasian PLTU  juga diulas di film ini. Hilir mudik kapal-kapal pengangkut batu bara dari Kalimantan ke Jawa, yang melewati Pulau Karimun Jawa telah menyebabkan kerusakan konservasi alamnya dan berdampak pada mata pencaharian nelayan setempat. 

Jeritan rakyat kecil seolah tenggelam; suara mereka banyak yang terabaikan. Bahkan penolakan pembangunan PLTU  berujung pada kriminalisasi. Kini mereka hanya bisa pasrah atas keserakahan di depan mata, hanya bisa mengutuk, dan tak lupa berdoa agar jerit tangis itu kelak mendapat solusi terbaik.

Kita pun yang menonton film ini pasti dibuat geram dan marah. Lantas, benarkah ini salah para pemilik perusahaan PLTU dan pekerja penambangan semata? Ya, tentu saja mereka salah. Karena mendulang untung dan menyebabkan banyak kerugian serta kerusakan alam. Tetapi kita juga punya andil dalam masalah ini. Kita juga bersalah. Mengapa? 

Tanpa kita sadari, prilaku kita menggunakan listrik adalah bagian dari ini semua. Perusahaan tambang melihat ini sebagai keuntungan besar, dengan menyediakan kebutuhan listrik kita. Bukankah kita kerap mengeluh jika listrik padam? Rasanya kesal hingga mati gaya karena bingung tidak bisa apa-apa. Terlebih padamnya listrik kerap membuat beberapa layanan operator seluler terganggu juga. Alhasil sinyal smartphone kesayangan pun hilang. Tak jarang banyak dari kita mengumpat dan menyalahkan pihak terkait, misalnya PLN sebagai jasa penyedia aliran listrik. Terutama jika mendapat kabar adanya pemadaman listrik bergilir.

Lantas bagaimana? Listrik adalah kebutuhan yang sangat penting di negeri ini. Apakah kita harus kembali ke masa dulu, dengan hanya mengandalkan cahaya lampu sentir atau petromak? Ya, hal ini memang tidak bisa dipungkiri. Kita sangat butuh aliran listrik untuk menerangi Negeri ini, dan untuk kebutuhan lainnya. Kita memang tidak bisa drastis mengubah semua ini. Tetapi kita bisa mulai dari kita sendiri, yaitu berhemat dalam pemakaian listrik. Gunakanlah listrik seperlunya. Padamkan lampu jika tidak terlalu penting digunakan. Ingatlah sebuah langkah besar kerap diawali dari hal kecil. Semoga semua ini bisa segera menemukan solusi terbaik bagi kita semua. Semoga tak ada lagi jeritan rakyat kecil yang membuat hati pilu. Aamiin. 

Posting Komentar

3 Tahun Tapis Blogger, Semakin Terdepan Mengenalkan Lampung

Squad Tapis Blogger A : Kamu tinggal di Lampung sudah berapa lama? B : Seperempat abad A : Selama itu apa saja yang sudah kamu laku...

 
Top