0

 

Museum Bank Mandiri Kota Tua Jakarta


Mungkin bagi sebagian orang wisata sejarah adalah hal yang kurang menarik dilakukan untuk mengisi waktu libur atau sekadar jalan-jalan santai, karena dianggap kegiatan ini tidak menawarkan sesuatu yang menyenangkan atau pengalaman seru. Tak heran, jika kebanyakan tempat-tempat seperti museum atau situs sejarah lainnya kerap sepi pengunjung.

Museum dianggap sebagai tempat penyimpanan koleksi benda kuno yang bahkan ada yang menganggapnya sebagai tempat menyeramkan karena suasananya sepi dan dipenuhi benda-benda dari masa lalu.

Apakah benar demikian?

Bagiku pribadi, museum adalah tempat yang cukup menarik dikunjungi. Karena di sini aku bisa mendapatkan pengalaman langsung akan jejak sejarah sekaligus menambah pengetahuan, yang mungkin tidak sempat didapatkan saat di sekolah atau bahkan di bangku kuliah dulu.

Itulah mengapa dalam setiap perjalanan atau sedang liburan di suatu tempat, biasanya aku menyempatkan berkunjung ke situs sejarah atau museum.

Nah, salah satu museum yang pernah kukunjungi adalah Museum Bank Mandiri yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta. Tentunya teman-teman sudah tidak asing lagi dengan kawasan Kota Tua Jakarta, bukan? Ya, Kota Tua Jakarta adalah sebuah arean luas yang dikenal sebagai destinasi wisata, di mana tempat ini banyak menyajikan bangunan-bangunan bersejarah sebagai salah satu daya tarik utamanya.

Sejarah Museum Bank Mandiri

Berdasarkan beberapa sumber bacaan, Museum Bank Mandiri sudah berdiri sejak jaman Kolonial Belanda, di mana pada masa itu bangunan ini menjadi pusat itu.

Menurut laman Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, disebutkan bahwa bahwa bangunan Museum Bank Mandiri ini dulunya milik perusahaan swasta Belanda, Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau dikenal juga sebagai Factorij Batavia. NHM adalah perusahaan yang mengelola aktivitas perdagangan dan saat itu diproyeksikan untuk menggantikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang bangkrut karena korupsi para pejabatnya.

Gedung NHM didirikan pada 1929, yang desainnya tiga orang arsitek, yakni J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits, dan C. Van de Linde. Untuk proses pembangunannya sekitar tiga sampai empat tahunan. Gedung itu pun baru diresmikan 14 Januari 1933 oleh presiden NHM ke-10, Cornelis Johannes Karel van Aalst.

Namun keberadaan gedung NHM yang berfungsi untuk menopang operasional perusahaan harus berakhir seiring hengkangnya Kolonial Belanda dan merdekanya Indonesia. Ketika Indonesia menjalankan nasionalisasi aset perusahaan Belanda, gedung NHM turut dijadikan milik Pemerintah Indonesia dan mengalami perubahan fungsi.

Selanjutnya pada 1960, gedung milik NHM tersebut resmi menjadi milik Indonesia seiring dengan dinasionalisasikannya NHM. Saat itu gedung tersebut digunakan Indonesia sebagai kantor bank.

Fungsi Gedung sebagai museum baru terlaksana pada 2 Oktober 1998, yakni Museum Bank Mandiri hingga saat ini.

Bangunan museum ini hingga kini masih mempertahankan bentuk aslinya. Karena Museum Bank Mandiri telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya melalui SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993. Dengan status tersebut, maka bentuk dan wajah asli bangunan bersejarah ini tidak bisa diubah atau diutak-atik sembarangan. Itulah mengapa bangunan sejarah ini sangat identik dengan nuansa Belanda.

Apa yang Menarik di Museum Bank Mandiri?

Jika dilihat dari namanya, sudah pasti koleksi di Museum Bank Mandiri berkaitan erat dengan dunia perbankan.

Saat aku tiba di Museum Bank Mandiri, kutatap sekeliling area yang sangat luas. Di sini kulihat sebagian besar koleksi benda-benda kuno terdiri dari berbagai macam peralatan bank, antaranya mesin hitung uang kalkulator, mesin cetak, aneka surat berharga, mata uang, hingga safe deposit box.

Aku benar-benar terpukau dengan berbagai macam benda-benda yang dipakai di masa lalu yang ada di Museum Bank Mandiri. Salah satu yang membuatku penasaran adalah mesin cetak uang dan mesin ketik. Karena boleh disentuh, aku memanfaatkan momen saat berada di depan mesin cetak uang untuk melihat detail alat tersebut lebih dekat.

Nah, selain itu, saat berkeliling area museum, aku menemukan salah satu koleksi menarik lainnya di Museum Bank Mandir yakni ruangan brankas. Di dalam ruangan itu ada banyak brankas dengan ukuran besar yang sangat berat.

Selain daya tarik dari berbagai koleksinya, ada juga hal menarik lain yang ditawarkan Museum Bank Mandiri kepada pengunjung, yakni hiasan kaca patri yang terpasang di salah satu dindingnya. Gambar yang terdapat pada hiasan kaca patri itu menampilkan ilustrasi tentang kehidupan dengan empat musim di Eropa.

Kapan Bisa Berkunjung ke Museum Bank Mandiri?

Bagi yang tertarik melakukan wisata sejarah dan mengulik kehidupan masa lampau di Museum Bank Mandirib isa datang ke sini setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional, karena kawasan museum ditutup alias tidak bisa dikunjungi.

Adapun jam buka Museum Bank Mandiri bagi pengunjung adalah pukul 09.00-15.00 WIB. Jika sedang berkunjung, pastikan melihat waktu, agar tidak panik saat museum akan memasuki jam tutup. Saat aku berkunjung, karena saking keasyikan menikmati berbagai koleksi sejarah dan sibuk mengabadikan diri di beberapa spot menariknya, aku harus sangat tergesa-gesa menuju area pintu keluar karena sudah waktunya museum untuk ditutup bagi pengunjung.

Nah, untuk harga tiketnya cukup membayar tiket masuk seharga Rp5.000 bagi masyarakat umum dan Rp3000 bagi pelajar, mahasiswa, atau nasabah Bank Mandiri. Sedangkan bagi wisatawan asing yang ingin menjelajahi Museum Bank Mandiri dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp15.000.

Cara ke Museum Bank Mandiri Kota Tua Jakarta

Karena letak Museum Bank Mandiri ini tepat berada di kawasan Kota Tua Jakarta, maka sudah pasti tempat ini lokasinya tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota.

Untuk bisa sampai ke Museun Bank Mandiri terbilang sangat mudah, baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan transportasi umum yang tersedia di Jakarta seperti TransJakarta atau transpotasi online yang ada.

Saat ke Museum Mandiri, aku memilih naik TransJakarta karena lebih hemat ongkos transpotasi. Selain itu lebih dekat jaraknya dari tempat tinggal adikku di Jakarta Barat. Rute perjalananku menuju Kota Tua dimulai dari Halte Slipi Kemanggisan. Dari sini aku naik TransJakarta 3F arah GBK dan setelah itu naik busway Blok M – Kota dan langsung turun di Stasiun Kota. Setelah itu aku jalan kaki sedikit untuk menuju kawasan Kota Tua.

Jarak dari Halte Stasiun Kota dengan Museum Bank Mandiri terbilang sangat dekat. Jadi, tidak perlu khawatir kelelahan saat berjalan kaki.

Sebagai informasi, Halte TransJakarta Stasiun Kota ini melayani sejumlah rute dan koridor. Jadi, sesuaikan saja bus yang akan dinaiki dari halte tempat asal keberangkatan untuk menuju ke kawasan Kota Tua.

Yuk, berkunjung ke museum dan gali lagi nilai-nilai sejarah penuh makna yang akan memperkaya ilmu pengetahuan kita. Ingat, bangsa yang besar adalah yang tidak pernah lupa akan sejarah bangsanya. Jadi, tidak ada salahnya luangkan sedikit waktu dalam perjalanan kita untuk sejenak melangkahkan kaki menjelajahi situs-situs sejarah di negeri tercinta ini.

Happy Taveling!

Posting Komentar

 
Top