Mungkin bagi sebagian orang wisata
sejarah adalah hal yang kurang menarik dilakukan untuk mengisi waktu libur atau
sekadar jalan-jalan santai, karena dianggap kegiatan ini tidak menawarkan
sesuatu yang menyenangkan atau pengalaman seru. Tak heran, jika kebanyakan
tempat-tempat seperti museum atau situs sejarah lainnya kerap sepi pengunjung.
Museum dianggap sebagai tempat
penyimpanan koleksi benda kuno yang bahkan ada yang menganggapnya sebagai
tempat menyeramkan karena suasananya sepi dan dipenuhi benda-benda dari masa
lalu.
Apakah benar demikian?
Bagiku pribadi, museum adalah
tempat yang cukup menarik dikunjungi. Karena di sini aku bisa mendapatkan pengalaman
langsung akan jejak sejarah sekaligus menambah pengetahuan, yang mungkin tidak
sempat didapatkan saat di sekolah atau bahkan di bangku kuliah dulu.
Itulah mengapa dalam setiap
perjalanan atau sedang liburan di suatu tempat, biasanya aku menyempatkan
berkunjung ke situs sejarah atau museum.
Nah, salah satu museum yang pernah
kukunjungi adalah Museum Bank Mandiri yang berada di kawasan Kota Tua Jakarta. Tentunya
teman-teman sudah tidak asing lagi dengan kawasan Kota Tua Jakarta, bukan? Ya, Kota
Tua Jakarta adalah sebuah arean luas yang dikenal sebagai destinasi wisata, di
mana tempat ini banyak menyajikan bangunan-bangunan bersejarah sebagai salah
satu daya tarik utamanya.
Sejarah
Museum Bank Mandiri
Berdasarkan beberapa sumber bacaan,
Museum Bank Mandiri sudah berdiri sejak jaman Kolonial Belanda, di mana pada
masa itu bangunan ini menjadi pusat itu.
Menurut laman Dinas Kebudayaan
Provinsi DKI Jakarta, disebutkan bahwa bahwa bangunan Museum Bank Mandiri ini dulunya
milik perusahaan swasta Belanda, Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau dikenal
juga sebagai Factorij Batavia. NHM adalah perusahaan yang mengelola aktivitas
perdagangan dan saat itu diproyeksikan untuk menggantikan Vereenigde
Oostindische Compagnie (VOC) yang bangkrut karena korupsi para pejabatnya.
Gedung NHM didirikan pada 1929,
yang desainnya tiga orang arsitek, yakni J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits, dan C.
Van de Linde. Untuk proses pembangunannya sekitar tiga sampai empat tahunan. Gedung
itu pun baru diresmikan 14 Januari 1933 oleh presiden NHM ke-10, Cornelis
Johannes Karel van Aalst.
Namun keberadaan gedung NHM yang
berfungsi untuk menopang operasional perusahaan harus berakhir seiring
hengkangnya Kolonial Belanda dan merdekanya Indonesia. Ketika Indonesia
menjalankan nasionalisasi aset perusahaan Belanda, gedung NHM turut dijadikan
milik Pemerintah Indonesia dan mengalami perubahan fungsi.
Selanjutnya pada 1960, gedung milik
NHM tersebut resmi menjadi milik Indonesia seiring dengan dinasionalisasikannya
NHM. Saat itu gedung tersebut digunakan Indonesia sebagai kantor bank.
Fungsi Gedung sebagai museum baru terlaksana
pada 2 Oktober 1998, yakni Museum Bank Mandiri hingga saat ini.
Bangunan museum ini hingga kini
masih mempertahankan bentuk aslinya. Karena Museum Bank Mandiri telah
ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya melalui SK Gubernur DKI
Jakarta No. 475 tahun 1993. Dengan status tersebut, maka bentuk dan wajah asli
bangunan bersejarah ini tidak bisa diubah atau diutak-atik sembarangan. Itulah mengapa
bangunan sejarah ini sangat identik dengan nuansa Belanda.
Apa
yang Menarik di Museum Bank Mandiri?
Jika dilihat dari namanya, sudah
pasti koleksi di Museum Bank Mandiri berkaitan erat dengan dunia perbankan.
Saat aku tiba di Museum Bank
Mandiri, kutatap sekeliling area yang sangat luas. Di sini kulihat sebagian
besar koleksi benda-benda kuno terdiri dari berbagai macam peralatan bank, antaranya
mesin hitung uang kalkulator, mesin cetak, aneka surat berharga, mata uang, hingga
safe deposit box.
Aku benar-benar terpukau dengan
berbagai macam benda-benda yang dipakai di masa lalu yang ada di Museum Bank
Mandiri. Salah satu yang membuatku penasaran adalah mesin cetak uang dan mesin
ketik. Karena boleh disentuh, aku memanfaatkan momen saat berada di depan mesin
cetak uang untuk melihat detail alat tersebut lebih dekat.
Nah, selain itu, saat berkeliling
area museum, aku menemukan salah satu koleksi menarik lainnya di Museum Bank
Mandir yakni ruangan brankas. Di dalam ruangan itu ada banyak brankas dengan
ukuran besar yang sangat berat.
Selain daya tarik dari berbagai
koleksinya, ada juga hal menarik lain yang ditawarkan Museum Bank Mandiri
kepada pengunjung, yakni hiasan kaca patri yang terpasang di salah satu
dindingnya. Gambar yang terdapat pada hiasan kaca patri itu menampilkan
ilustrasi tentang kehidupan dengan empat musim di Eropa.
Kapan
Bisa Berkunjung ke Museum Bank Mandiri?
Bagi yang tertarik melakukan wisata
sejarah dan mengulik kehidupan masa lampau di Museum Bank Mandirib isa datang ke
sini setiap hari kecuali Senin dan hari libur nasional, karena kawasan museum ditutup
alias tidak bisa dikunjungi.
Adapun jam buka Museum Bank Mandiri
bagi pengunjung adalah pukul 09.00-15.00 WIB. Jika sedang berkunjung, pastikan melihat
waktu, agar tidak panik saat museum akan memasuki jam tutup. Saat aku
berkunjung, karena saking keasyikan menikmati berbagai koleksi sejarah dan
sibuk mengabadikan diri di beberapa spot menariknya, aku harus sangat
tergesa-gesa menuju area pintu keluar karena sudah waktunya museum untuk
ditutup bagi pengunjung.
Nah, untuk harga tiketnya cukup
membayar tiket masuk seharga Rp5.000 bagi masyarakat umum dan Rp3000 bagi pelajar,
mahasiswa, atau nasabah Bank Mandiri. Sedangkan bagi wisatawan asing yang ingin
menjelajahi Museum Bank Mandiri dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp15.000.
Cara
ke Museum Bank Mandiri Kota Tua Jakarta
Karena letak Museum Bank Mandiri
ini tepat berada di kawasan Kota Tua Jakarta, maka sudah pasti tempat ini lokasinya
tidak jauh dari Stasiun Jakarta Kota.
Untuk bisa sampai ke Museun Bank
Mandiri terbilang sangat mudah, baik dengan kendaraan pribadi maupun dengan
transportasi umum yang tersedia di Jakarta seperti TransJakarta atau
transpotasi online yang ada.
Saat ke Museum Mandiri, aku memilih
naik TransJakarta karena lebih hemat ongkos transpotasi. Selain itu lebih dekat
jaraknya dari tempat tinggal adikku di Jakarta Barat. Rute perjalananku menuju
Kota Tua dimulai dari Halte Slipi Kemanggisan. Dari sini aku naik TransJakarta
3F arah GBK dan setelah itu naik busway Blok M – Kota dan langsung turun di
Stasiun Kota. Setelah itu aku jalan kaki sedikit untuk menuju kawasan Kota Tua.
Jarak dari Halte Stasiun Kota
dengan Museum Bank Mandiri terbilang sangat dekat. Jadi, tidak perlu khawatir kelelahan
saat berjalan kaki.
Sebagai informasi, Halte
TransJakarta Stasiun Kota ini melayani sejumlah rute dan koridor. Jadi, sesuaikan
saja bus yang akan dinaiki dari halte tempat asal keberangkatan untuk menuju ke
kawasan Kota Tua.
Yuk, berkunjung ke museum dan gali
lagi nilai-nilai sejarah penuh makna yang akan memperkaya ilmu pengetahuan
kita. Ingat, bangsa yang besar adalah yang tidak pernah lupa akan sejarah
bangsanya. Jadi, tidak ada salahnya luangkan sedikit waktu dalam perjalanan
kita untuk sejenak melangkahkan kaki menjelajahi situs-situs sejarah di negeri
tercinta ini.
Happy Taveling!

Posting Komentar