0

 

Terapi Pemaafan


Awalnya aku merasa apa yang kuterapkan dalam hidup dan pikiran-pikiran yang kubangun adalah hal baik dan sudah seharusnya. Ternyata aku salah, karena sebenarnya semua itu justru jadi tumpukan beban yang kubawa setiap hari tanpa kusadari. Alhamdulillah mindset-ku berubah saat aku berkesempatan ikut dalam workshop Forgiveness Therapy dari Dandiah Care, sebuah pusat konseling dan edukasi keluarga yang didirikan oleh pasangan luar biasa Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Dandi Birdy, S.Psi.

Semua hal harus terlihat rapi, teratur, ditempatkan di tempat yang seharusnya, semuanya harus benar, harus sesuai aturan. Pokoknya harusnya begini bukan begitu. Melihat suatu benda berubah posisi atau tampak miring sedikit saja, langsung membuat tidak nyaman. Ucapan orang kadang terlalu dipikirkan (overthinking) hingga tak jarang bikin sulit konsentrasi dan tidur nyenyak. Gagal atau melakukan salah sedikit saja, jadi pikiran, karena terlalu takut dengan opini yang akan dibangun orang lain.

Ya, itulah yang kualami. Bagaimana rasanya? Capek banget, seperti bawa tas di punggung yang terus ditambahkan beban setiap harinya. Hal-hal tersebut pun kerap mengganggu aktivitasku karena fokusku jadi buyar dan ini kadang berpengaruh pada hasil kerja. Bagaimana tidak, mood yang sedang bagus-bagusnya tiba-tiba saja jadi buruk hanya karena melihat ketidakteraturan di sekitar.

Awalnya aku merasa hal ini adalah wajar, aku menganggap diriku hanyalah pribadi yang suka dengan kerapihan dan kesempurnaan. Dan ini menurutku baik. Tapi ternyata, apa yang kuanggap baik ini bisa juga berdampak pada kondisi psikologis.

Buruknya, tak jarang aku marah atau kesal pada orang yang menyebabkan ketidakteraturan. Salah satunya di rumah, saat aku marah hanya karena posisi meja tamu jadi miring karena tersenggol adik lelakiku. Aku marah karena ia membiarkannya.

Workshop Forgiveness Therapy, Ruang Belajar Pemaafan yang Bantu Lepas Beban yang Kubawa

Ini pertama kalinya bagiku ikut workshop Fogiveness Therapy dari Dandiah Care. Acara yang dibawakan seorang Psikolog handal Drs. Asep Haerul Gani ini telah membuka mata dan pikiranku bahwa selama ini tubuhku memikul beban yang kukumpulkan sendiri. Beban yang seharusnya tidak perlu ada, di mana hal inilah yang telah membuatku kerap diliputi rasa cemas berlebihan (Anxiety), overthinking, tidak konsentrasi, hingga tidak mampu mengontrol emosi bahkan hanya karena hal sepele.


Forgiveness Therapy


Di sini, aku diajak untuk pelan-pelan menurunkan tas punggungku yang berisi banyak beban dan mengeluarkan isinya dengan lebih bijak. Belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain yang membuatku tak nyaman atas sikap mereka. Buang rasa cemas berlebihan atas penilaian orang lain pada kinerja kita, jangan terlalu memikirkan opini orang lain jika kita tidak mampu melakukan hal-hal dengan sempurna, dan ajak diri untuk tidak bereaksi berlebihan saat melihat sesuatu tidak teratur/tidak sesuai aturan/tidak rapih.

Aku pernah ikut dalam tes psikologi online, dan hasilnya aku dinyatakan Perfeksionisme Maladaptif, yakni kondisi di mana standar tinggi yang kupegang bukan membuatku maju, tetapi justru menyiksaku. Apa yang kurasa benar justru malah membuat lelah secara mental, muncul rasa cemas, overthinking, dan burnout, karena otak tidak pernah diberi izin untuk istirahat.

Lantas, apakah dengan memaafkan artinya aku akan membiarkan atau membenarkan saat seseorang membuatku tidak nyaman? Apakah metode pemaafan sudah tepat agar aku kembali ke realita hidup, bahwa tidak semuanya benar dan harus sempurna.

Dalam penjelasannya, Pak Asep mengatakan bahwa memaafkan bukanlah berarti membenarkan sikap orang yang mengganggu kenyamanan kita. Tetapi ini adalah sebuah proses sadar untuk bisa melepaskan emosi/pikiran karena kesal, kecewa, atau pun rasa bersalah. Tujuannya agar tas di punggungku jadi lebih ringan dan memudahkan langkahku.

Di workshop ini, aku pun mendapatkan insight tentang arti memaafkan saat ditampilkan locus of control berisi kata bijak dari Epictus, yang berbunyi:

“Happiness and freedom begin with a clear understanding of one principle. Some things are within your control. And some things are not.”


Locus of Control


Kutipan itu mengajakku berpikir, bahwa kita tidak bisa mengontrol segala sesuatu tetap tertata rapi, kita tidak bisa mengontrol opini orang lain atas apa yang kita lakukan, tetapi kitab isa mengontrol cara terbaik dalam merespons semua itu agar hati dan pikiran tetap damai dan tidur pun bisa mudah nyenyak.

Dengan ikut webinar Forgiveness Therapy, aku banyak belajar cara melepaskan beban yang seharusnya tidak kubawa, agar aku tidak lagi diperbudak oleh standar sendiri.

9 langkah Pemaafan

Dalam workshop ini aku dikenalkan dengan progam 9 Langkah Pemaafan, di mana aku menemukan bahwa dunia itu tidak melulu harus lurus sesuai aturan. Aku punya kendali atas kenyamanan dan kebahagiaanku dengan pilihan yang lebih bijak, yakni memilih tenang.

9 langkah pemaafan itu mengajarkan memilih tenang mulai dengan jujur mengakui bahwa aku tidak nyaman saat melihat, misalnya meja miring, takut dijudge saat salah atau tidak dapat melakukan sesuatu dengan sempurna. Selanjutnya, komitmen memaafkan rasa tidak enak itu agar nantinya bisa tidur nyenyak. Jadi intinya, ubah pola pikir dari “meja harus lurus/semua haus sesuai aturan/semua yang kukerjakan harus sempurna” menjadi “kepala harus damai”.

Ternyata selama ini yang menyakitiku adalah pikiran-pikiran yang kubangun, bukan kejaadiannya.

Mulai sekarang, aku akan berusaha melepas harapan bahwa semua orang harus sama rapihnya denganku, dan aku lebih memilih mengganti istilah “aku gagal” saat melakukan sesuatu dengan “aku sedang belajar dan tetap berharga”. Semoga aku bisa lebih berdamai dengan diri sendiri, lebih tenang, dan tidak overthinking.

Aku berharap kelak bisa ikut program ini secara offline dan ingin nantinya bisa berbagi dengan yang lain tentang bagaimana keluar dari kungkungan diri sendiri yang melemahkan mental dan membuat kita tidak nyaman.

Yuk, buat kalian yang ingin berdamai dengan diri sendiri, memaafkan, atau bisa sembuh dari luka masa lalu yang menyiksa, jangan lewatkan untuk ikut dalam Forgiveness Therapy dari Dandiah Care. Sudah saatnya raih Bahagia tanpa bawa beban yang seharusnya tidak pernah dibawa.

Posting Komentar

 
Top