Awalnya
aku merasa apa yang kuterapkan dalam hidup dan pikiran-pikiran yang kubangun
adalah hal baik dan sudah seharusnya. Ternyata aku salah, karena sebenarnya
semua itu justru jadi tumpukan beban yang kubawa setiap hari tanpa kusadari. Alhamdulillah
mindset-ku berubah saat aku berkesempatan ikut dalam workshop Forgiveness
Therapy dari Dandiah Care, sebuah pusat konseling dan edukasi keluarga yang didirikan
oleh pasangan luar biasa Diah Mahmudah, S.Psi., Psikolog dan Dandi Birdy, S.Psi.
Semua
hal harus terlihat rapi, teratur, ditempatkan di tempat yang seharusnya,
semuanya harus benar, harus sesuai aturan. Pokoknya harusnya begini bukan
begitu. Melihat suatu benda berubah posisi atau tampak miring sedikit saja,
langsung membuat tidak nyaman. Ucapan orang kadang terlalu dipikirkan (overthinking)
hingga tak jarang bikin sulit konsentrasi dan tidur nyenyak. Gagal atau
melakukan salah sedikit saja, jadi pikiran, karena terlalu takut dengan opini
yang akan dibangun orang lain.
Ya,
itulah yang kualami. Bagaimana rasanya? Capek banget, seperti bawa tas di
punggung yang terus ditambahkan beban setiap harinya. Hal-hal tersebut pun
kerap mengganggu aktivitasku karena fokusku jadi buyar dan ini kadang berpengaruh
pada hasil kerja. Bagaimana tidak, mood yang sedang bagus-bagusnya tiba-tiba
saja jadi buruk hanya karena melihat ketidakteraturan di sekitar.
Awalnya
aku merasa hal ini adalah wajar, aku menganggap diriku hanyalah pribadi yang
suka dengan kerapihan dan kesempurnaan. Dan ini menurutku baik. Tapi ternyata,
apa yang kuanggap baik ini bisa juga berdampak pada kondisi psikologis.
Buruknya,
tak jarang aku marah atau kesal pada orang yang menyebabkan ketidakteraturan. Salah
satunya di rumah, saat aku marah hanya karena posisi meja tamu jadi miring
karena tersenggol adik lelakiku. Aku marah karena ia membiarkannya.
Workshop
Forgiveness Therapy, Ruang Belajar Pemaafan yang Bantu Lepas Beban yang Kubawa
Ini
pertama kalinya bagiku ikut workshop Fogiveness Therapy dari Dandiah
Care. Acara yang dibawakan seorang Psikolog handal Drs. Asep Haerul Gani ini
telah membuka mata dan pikiranku bahwa selama ini tubuhku memikul beban yang
kukumpulkan sendiri. Beban yang seharusnya tidak perlu ada, di mana hal inilah
yang telah membuatku kerap diliputi rasa cemas berlebihan (Anxiety),
overthinking, tidak konsentrasi, hingga tidak mampu mengontrol emosi bahkan
hanya karena hal sepele.
Di
sini, aku diajak untuk pelan-pelan menurunkan tas punggungku yang berisi banyak
beban dan mengeluarkan isinya dengan lebih bijak. Belajar memaafkan diri
sendiri dan orang lain yang membuatku tak nyaman atas sikap mereka. Buang rasa
cemas berlebihan atas penilaian orang lain pada kinerja kita, jangan terlalu
memikirkan opini orang lain jika kita tidak mampu melakukan hal-hal dengan sempurna,
dan ajak diri untuk tidak bereaksi berlebihan saat melihat sesuatu tidak
teratur/tidak sesuai aturan/tidak rapih.
Aku
pernah ikut dalam tes psikologi online, dan hasilnya aku dinyatakan Perfeksionisme
Maladaptif, yakni kondisi di mana standar tinggi yang kupegang bukan membuatku
maju, tetapi justru menyiksaku. Apa yang kurasa benar justru malah membuat
lelah secara mental, muncul rasa cemas, overthinking, dan burnout, karena otak
tidak pernah diberi izin untuk istirahat.
Lantas,
apakah dengan memaafkan artinya aku akan membiarkan atau membenarkan saat
seseorang membuatku tidak nyaman? Apakah metode pemaafan sudah tepat agar aku
kembali ke realita hidup, bahwa tidak semuanya benar dan harus sempurna.
Dalam
penjelasannya, Pak Asep mengatakan bahwa memaafkan bukanlah berarti membenarkan
sikap orang yang mengganggu kenyamanan kita. Tetapi ini adalah sebuah proses
sadar untuk bisa melepaskan emosi/pikiran karena kesal, kecewa, atau pun rasa
bersalah. Tujuannya agar tas di punggungku jadi lebih ringan dan memudahkan
langkahku.
Di
workshop ini, aku pun mendapatkan insight tentang arti memaafkan saat ditampilkan
locus of control berisi kata bijak dari Epictus, yang berbunyi:
“Happiness
and freedom begin with a clear understanding of one principle. Some things are
within your control. And some things are not.”
Kutipan
itu mengajakku berpikir, bahwa kita tidak bisa mengontrol segala sesuatu tetap
tertata rapi, kita tidak bisa mengontrol opini orang lain atas apa yang kita lakukan,
tetapi kitab isa mengontrol cara terbaik dalam merespons semua itu agar hati
dan pikiran tetap damai dan tidur pun bisa mudah nyenyak.
Dengan
ikut webinar Forgiveness Therapy, aku banyak belajar cara melepaskan beban
yang seharusnya tidak kubawa, agar aku tidak lagi diperbudak oleh standar
sendiri.
9
langkah Pemaafan
Dalam
workshop ini aku dikenalkan dengan progam 9 Langkah Pemaafan, di mana aku
menemukan bahwa dunia itu tidak melulu harus lurus sesuai aturan. Aku punya
kendali atas kenyamanan dan kebahagiaanku dengan pilihan yang lebih bijak,
yakni memilih tenang.
9
langkah pemaafan itu mengajarkan memilih tenang mulai dengan jujur mengakui
bahwa aku tidak nyaman saat melihat, misalnya meja miring, takut dijudge saat
salah atau tidak dapat melakukan sesuatu dengan sempurna. Selanjutnya, komitmen
memaafkan rasa tidak enak itu agar nantinya bisa tidur nyenyak. Jadi intinya,
ubah pola pikir dari “meja harus lurus/semua haus sesuai aturan/semua yang
kukerjakan harus sempurna” menjadi “kepala harus damai”.
Ternyata
selama ini yang menyakitiku adalah pikiran-pikiran yang kubangun, bukan
kejaadiannya.
Mulai
sekarang, aku akan berusaha melepas harapan bahwa semua orang harus sama
rapihnya denganku, dan aku lebih memilih mengganti istilah “aku gagal” saat
melakukan sesuatu dengan “aku sedang belajar dan tetap berharga”. Semoga aku
bisa lebih berdamai dengan diri sendiri, lebih tenang, dan tidak overthinking.
Aku
berharap kelak bisa ikut program ini secara offline dan ingin nantinya bisa
berbagi dengan yang lain tentang bagaimana keluar dari kungkungan diri sendiri
yang melemahkan mental dan membuat kita tidak nyaman.
Yuk,
buat kalian yang ingin berdamai dengan diri sendiri, memaafkan, atau bisa
sembuh dari luka masa lalu yang menyiksa, jangan lewatkan untuk ikut dalam
Forgiveness Therapy dari Dandiah Care. Sudah saatnya raih Bahagia tanpa bawa
beban yang seharusnya tidak pernah dibawa.



Posting Komentar