0


Hidup adalah tentang berjuang menjadi sosok individu yang mampu memberikan poin-poin terbaik, sebagai wujud syukur atas nikmat hidup yang Allah anugerahkan pada setiap hamba-Nya. Tentunya hal ini akan bisa terealisasi jika kita bisa berkontribusi dalam kemashalatan bagi sekitar. Untuk itu pula hendaknya kita merencanakan setiap langkah dalam setiap helaan napas agar bernilai manfaat serta barokah. Hidup bukan sekadar untuk dinikmati. Terutama bagi seorang wanita. Tetapi kita punya peran penting dalam membentuk suatu generasi. Karena apa? Karena wanita kelak akan menjadi seorang Ibu, yang akan menjadi madrasah pertama anak-anaknya. Wanita adalah pencetak generasi, yang mempunyai keterlibatan dalam menciptakan generasi yang berkarakter, berakhlak, kuat, taat Allah, serta mampu menularkan energi-energi positif bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Tak heran jika seorang wanita disebut-sebut sebagai ikon penting dalam melahirkan generasi berkualitas.


Berbicara tentang Ibu sebagai madrasah pertama bagi anak, tentunya sangat berkaitan erat dengan kualitas dan kapasitas seorang Ibu. Menyadari akan pentingnya hal ini, maka saya harus berhati-hati dalam menentukan setiap pilihan. Karena jika salah menentukan jurusan di Universitas kehidupan, maka setiap tujuan yang ingin dicapai tidak akan pernah bertemu hasil terbaiknya. Ibarat naik angkutan umum, jika kita salah naik jurusan angkutan umum, pastinya kita tidak akan pernah sampai di tujuan akhir. Jadi saya tidak bisa cuma asal ambil jurusan. Intinya harus dipertimbangkan apakah jurusan itu sesuai dengan kebutuhan untuk berpetualang di negeri kehidupan. Apa yang akan saya tekuni hendaknya berjalan selaras dengan setiap visi dan misi dalam kehidupan. Life is too short. Therefore I need to know who I am, why I am here, and what I shoud do. 


Dunia kepenulisan adalah salah satu bidang yang sangat saya gemari. Karena alasan ini pulalah saya memilih untuk menekuni bidang ilmu ini di Universitas Kehidupan, yang diharapkan nantinya bisa teraplikasi dengan baik dalam mengarungi lautan kehidupan, yang tidak hanya berisi kenikmatan, tetapi juga tantangan serta ujian. Mengapa harus bidang menulis? Karena menulis itu menyediakan banyak manfaat luar biasa. Tidak hanya bagi diri pribadi. Tetapi juga orang lain, lingkungan, hingga dunia. Menulis menuntut saya untuk menjadi pembaca produktif agar mempunyai banyak referensi ilmu dan pengetahuan yang berlimpah.  Menulis tanpa memperkaya diri dengan berbagai bacaan hanya akan menghasilkan tulisan-tulisan kosong. 


Kemampuan berpikir akan meningkat dan kinerja otak akan lebih baik dengan rutin mengajak otak berpikir, yakni dengan menulis. Hal ini akan berakibat baik pada peran saya kelak sebagai wanita dan ibu yang memang diperlukan bagi anak-anaknya. Bagaimana seorang Ibu bisa mendidik anak dengan baik jika hanya dibekali ilmu dan kemampuan berpikir yang seadanya. Tidak mungkin kan kita selalu menjawab "Tidak tahu" setiap anak bertanya ini itu. Karena biasanya ruang otak mereka itu dipenuhi dengan rasa curious tinggi. Tidak mungkin juga kita menyerahkan segala urusan peningkatan kualitas anak kepada lembaga pendidikan. Ingat Ibu adalah madrasah pertama. Di sinilah kunci utamanya. 


Namun tidak bisa dipumgkiri juga bahwa terkadang rasa malas kerap betah menempel, hingga proses mengasah diri dalam menulis terganggu. Lantas bagaimana caranya agar tidak terkena syndrom malas ini? Yang pertama adalah meminta petunjuk dan memohon kepada Allah agar hati senantiasa teguh dan istiqomah dalam menekuni jurusan yang saya tekuni ini. Selanjutnya selalu mengingatkan diri akan tujuan mulia yang harus saya pikul dalam berperan sebagai seorang wanita, istri, dan Ibu. The last but not least adalah tanggung jawab saya terhadap Allah. 


Dalam menuntut ilmu tentunya ada poin-poin penting yang harus terpenuhi, agar proses mencari ilmu itu tidak sia-sia. Ilmu adalah sesuatu yang mulia, maka sudah seharusnya didapatkan dengan cara yang baik. Untuk itu hal yang harus saya perbaiki tentunya mengubah mind set untuk apa ilmu tersebut saya geluti. Dan yang paling penting adalah berserah diri dan selalu memperbaiki serta meningkatkan hubungan dengan sang maha pemilik ilmu. 

Posting Komentar

 
Top