0
Foto: Internet


"Peace is better than war." Sebuah ung kapan yang kerap digaungkan demi kehidupan yang lebih baik di atas muka bumi. Namun pada kenyataannya, dunia selalu diwarnai kerusuhan, konflik berkepanjangan, hingga perang brutal tiada akhir, yang berdampak luar biasa pada kehidupan masyarakat global. Dan dalam setiap perang, rakyat sipil lah yang selalu harus menjadi korban paling menderita, yang bahkan harus kehilangan nyawa akibat perseteruan yang berlangsung di tanah tempat mereka berpijak.


Salah satu konflik berkepanjangan yang hingga saat ini menjadi perhatian dunia adalah perseteruan yang berlangsung di Timur Tengah - perang Arab-Israel. Permusuhan di Timur Tengah adalah bentuk konflik abadi yang diklaim banyak pihak sebagai perang terdahsyat sepanjang masa. Banyak opini yang meragukan akan tercapainya perdamaian dari kedua belah pihak. Karena keduanya terlihat sangat berambisius untuk mempertahankan eksistensinya di tanah yang dianggap menjadi haknya. Terutama pihak Israel, yang dari masa ke masa semakin nampak serakah dalam usaha penguasaan total atas bumi Palestina.


"Sementara itu propaganda yang bersifat provokatif, yang disiarkan dari Kairo dan stasiun-stasiun radio Arab lainnya mempersiapkan opini publik untuk berperang dan menjanjikan kematian dan permusuhan terhadap Israel. "Seluruh Mesir kini siap terjun ke dalam perang total yang akan mengakhiri Israel ," demikian penyataan komentator Saut Al-Arab pada 17 Mei. "Tujuan dasar kita adalah menghancurkan Israel. Bangsa Arab ingin berperang." Demikian kata Presiden Nasser pada 27 Mei. (Hal:17)


Konflik Bersejarah: Enam Hari yang Mengguncang Dunia, adalah sebuah buku berlatar sejarah, yang ditulis oleh Nino Oktatarino. Buku dengan tebal 162 halaman ini membahas kisah seputar perang Arab-Israel ketiga, yang terjadi di tahun 1967. Peristiwa perang ini kemudian dikenal dalam sejarah dunia sebagai perang enam hari. Meskipun terjadi dalam jangka waktu singkat, namun perang ini telah mengakibatkan kekacauan luar biasa secara global. Sebut saja diantaranya: Perang Atrisi, Perang Yom Kimpur, pembantaian atlet Israel di Munich dan kelompok black september, Perang Lebanon, kontroversi pemukiman Yahudi, masa depan Yerusalem, Perjanjian Camp David, Kesepakatan OSLO, dan intifada (pemberontakan). Kesemuanya adalah sebagai dampak dari peristiwa perang enam hari di Timur Tengah pada Juni 1967.


Ketegangan antara Arab-Yahudi (Israel) adalah sebuah fenomena permusuhan yang menjadi masalah besar internasional, sejak lahirnya negara Israel 1948. Konflik terus berkobar dari kedua belah pihak. Terlebih ketika Perang Dunia I, dimana pihak-pihak luar seperti Turki, Jerman, Inggris, Amerika, dan Prancis turut campur di dalamnya.


Dalam buku ini dikisahkan bagaimana pihak Inggris dengan keserakahannya, berusaha mengambil keuntungan dengan memamfaatkan kedua belah pihak, dengan iming-iming kekuasaan dan tanah baru, untuk memenangkan persaingan dengan Jerman dan sekutunya. Bahkan akibat ulah inggris-Prancis yang memecah belah Timur Tengah saat itu, telah menimbulkan konflik antara Inggris, Arab, dan Yahudi, yang sering memakan banyak korban jiwa. Dan perseteruan kian sengit karena tidak lagi hanya menyangkut daerah capkokan (kekuasaan), tetapi juga diwarnai oleh klaim-klaim yang berkaitan dengan agama.


Dalam peperangan diperlukan adanya sebuah strategi jitu agar mampu bertahan dan bahkan menjadi pemenang. Terutama bagi pihak yang dinilai berkekuatan kecil. Karena apalah arti sebuah kekuatan dan jumlah besar jika tidak menguasai medan tempur dan memiliki strategi perang yang handal. Dan hal inilah yang telah dengan sempurna diaplikasikan pihak Israel dalam memenangkan perang enam hari tesebut. Menyadari bahwa negaranya kecil dan jumlah prajurit yang kalah dari pihak musuh, yang pastinya akan membuat Israel kesulitan bertahan jika diserang, telah membuat Israel mempersiapkan segalanya dengan penuh perhitungan


Israel Air Force (IAF) beranggotakan para pilot yang dilatih sangat istimewa dan berstandar tinggi. Mereka dilatih dan dipersiapkan untuk peranan ofensif guna menghancurkan serangan udara musuh. Tidak hanya itu, Israel kerap memanfaatkan waktu-waktu lengah musuh untuk menyerang. Seperti pada peristiwa serangan 5 Juni 1967, dimana Israel berhasil menghancurkan sembilan lapangan udara Mesir pukul 07:45, dimana saat itu para pilotnya tengah santai menikmati sarapan.


Perang enam hari memang telah menjadi kemenangan cemerlang Israel dalam perang singkat selama 132 jam. Dan itu semua berkat strategi perang Israel dalam mempelajari kondisi musuhnya. Namun meskipun demikian, sampai kapanpun Timur Tengah tidak akan membiarkan Israel menikmati kemenangannya. Akan selalu ada intifada (pembrontakan) untuk menyingkirkan Israel dari daerah yang dikuasainya. Dan pada akhirnya, walaupun kini Israel memiliki kartu truf berupa daerah-daerah yang direbutnya, yang sebelumnya digunakan sebagai landasan serbu untuk menyerang wilayahnya, guna membuka jalan bagi suatu perundingan damai dengan negara-negara Arab, jalan itu masih terlalu panjang dan mungkin mustahil untuk ditempuh.


Judul: Konflik Bersejarah: Enam Hari                 yang Mengguncang Dunia

Penulis: Nino Oktarino

Penerbit: Elex Media Computindo

ISBN: 978-602-02-3054-2

Tebal: 162 Halaman



Posting Komentar

Sukacita Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah

Source: Canva Allahu akbar Allahubakbar, laa illaha illallahuwaallaahu akbar. Allahu akbar walillahil hamd. Senandung takbir tela...

 
Top