0

"Malu bertanya sesat di jalan". Sebuah peribahasa yang sangat populer hingga saat ini. Walaupun hanya berupa sebait kalimat singkat, namun maknanya dapat merefleksikan banyak hal. Terutama yang berhubungan dengan perjalanan. Jika memang kita tidak tahu atau tidak mengerti sama sekali tentang sesuatu, sudah seharusnya kita bertanya pada orang lain yang lebih paham. Jangan ragu. Jangan sungkan. Karena jika kita cenderung diam dan abai atas ketidaktahuan itu, maka kerugian siap menghampiri tentunya. 

Allah ta'ala berfirman dalam Q.S Al-Anbiya : 7 yang berbunyi: "Dan kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum kamu Muhammad, melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka. Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui". 

Ayat di atas memang terfokus pada perkara agama dan hukum-hukum islam. Namun kita juga bisa mejadikannya rujukan bahwa jika kita tak paham akan suatu hal, maka tanyakanlah pada yang berpengetahuan tentang hal itu. Jadi kita bisa tahu tentang kebenarannya dan tak terjerumus dengan kesalahan yang sama. 

Dalam tulisan yang berkaitan dengan "malu bertanya sesat di jalan" kali ini adalah tentang kebiasaan dan sikap buruk peserta didik masa kini (sebagian besar berdasarkan pengalaman saya sebagai pendidik). Sungguh saya sangat sedih, kecewa, prihatin, dan mungkin juga ada sedikit marah dengan kondisi murid-murid yang acuh, yang menganggap bahwa jika tes sudah berlalu maka lepas jugalah kewajiban mereka dalam urusan belajar dan bertanya. 




Murid-murid itu sama sekali tidak punya rasa penasaran dengan jawaban apa yang benar dan tepat, tidak ingin tahu mengapa jawaban mereka salah. Mereka justru tenggelam dalam diskusi yang tak penting dengan yang lain saat pembahasan. Mereka benar-benar tak peduli. Padahal tiap kali usai tes, pasti ada pembahasan soal agar mereka lebih paham dan bisa mendapat hasil yang lebih baik untuk tes-tes selanjutnya. Ohhh...tapi aku speechless menyaksikan sikap generasi dan harapan bangsa yang seperti ini. 

Bukankah saat seorang murid tak paham, ia punya hak bertanya dan sang guru berkewajiban menjawab. Tapi mengapa hak dan kewajiban itu tak pernah terealisasi? Bagaimana sang guru menuntaskan kewajibannya, disaat peserta didiknya tak peduli dan bahkan tidak memerhatikan saat gurunya menjelaskan?  Padahal kesempatan bertanya dibuka selebar-lebarnya. Dan jujur saja saya paling suka jika murid saya kritis dan melempar banyak pertanyaan. 

Apalah fungsinya belajar dan sarana pendidikan jika hanya digunakan sebagai wadah numpang duduk, kerjakan tugas, ngobrol dengan teman, dan pulang. Lantas apa yang didapat? Mungkinkah terselip atau tersimpan sedikit ilmu dalam ingatan jika perilaku mereka seperti itu? Saya berani bilang "Nothing". 

Kondisi anak didik yang seperti inilah yang saya maksud berkorelasi dengan peribahasa "malu bertanya sesat di jalan". Malu yang intinya lebih kearah malas bertanya. Sesat dalam artian menjadi bodoh dan merugi. Ingatlah bahwa kebodohan itu amat sangat menyakitkan. Ia adalah kondisi dimana seseorang dapat dengan mudah disingkirkan dan dikhianati. Don't just be quiet if you think that you need an explanation. Ask, ask, and ask. 


#OneDayOnePost


Bandar Lampung, 20 Februari 2017 



Posting Komentar

 
Top