0

Source: Pinterest @Nasihatsahabat.com


Anak merupakan anugerah Allah yang sangat berharga bagi orangtua. Karena kehadiran anak dalam keluarga akan menjadi pelengkap kebahagiaan yang tak terhingga. Namun hadirnya seorang anak juga diiringi dengan sebuah tanggung jawab yang besar. Karena anak sejatinya adalah titipan Allah yang dipercayakan pada orangtua. Karenanya sangat perlu untuk mendidik dan membentuk anak menjadi pribadi yang Allah cintai dan sangat mencintai Allah. Terlebih anak juga bisa menjadi aset akhirat yang kelak akan membela orangtuanya di hari perhitungan.  Oleh sebab itu jangan sampai karunia yang begitu indah itu kembali kepada sang pemiliknya dalam keadaan yang cacat tentunya.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Q.S Al-Kahfi:46)

Dalam pembentukkan karakter anak, tempat terbaiknya adalah di rumah. Inilah ibarat pintu gerbang utama yang kelak akan menentukkan hasil akhir perjalanan kepribadian sang anak, di tengah gempuran pengaruh dunia yang kadang menyesatkan. Dan di sinilah peran seorang Ibu sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter kuat sang anak. Ibulah yang paling dominan perannya dalam mendidik, membimbing, mendampingi, dan mengarahkan anak. ibu adalah guru terpenting  dalam kehidupan anak. Karena Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Anak-anak akan menjadi perhiasan indah jika mendapatkan pendidikan yang tepat. Sebaliknya, anak pun akan menjadi pil pahit bagi orangtuanya jika tidak dididik dengan cara yang tepat. Inilah yang menjadikan banyak anak menunjukkan sikap tidak berbakti pada orangtuanya. Bahkan tak jarang kita melihat ada anak yang tega mencampakkan orangtua, ketika mereka merasa sudah tak lagi butuh kehadiran orangtua dalam kehidupan. Naudzubillah.

Lantas bagaimana cara mendidik anak agar menjadikannya pribadi santun, berbakti, dan taat Allah? Berikan Pendidikan Terbaik Bagi Anak. Pendidikan yang paling utama dikenalkan pada anak tentu yang berkaitan dengan pengenalan akan Sang Maha Pencipta, Allah tabarokallah. Kenalkan anak dengan ilmu tauhid, aqidah, dan bagimana caranya menjadi hamba Allah yang baik serta benar. Dengan anak lebih mengenal dan dekat dengan Allah, maka pengaruh negatif dari luar akan sulit untuk meracuni hati dan pikiran anak. Terutama di era serba digital seperti sekarang ini.

Derasnya arus informasi serta kemudahan dalam berinteraksi melalui media digital, akan memberikan resiko terhadap perkembangan karakter anak. Sedangkan untuk tidak bersentuhan sama sekali dengan segala macam fasilitas teknologi informasi tidaklah mungkin. itulah mengapa penanaman nilai-nilai ketauhidan sangat diperlukan. Namun apakah cukup dengan hanya menanamkan nilai ketauhidan? Tentu saja tidak.

Nilai ketauhidan memang perlu dimatangkan dalam diri anak agar benteng dalam dirinya pun kokoh. Namun hal ini juga perlu didukung dengan sikap dan perilaku orangtua dalam keseharian. Artinya, jadilah contoh tauladan bagi anak. Misalnya, saat adzan berkumandang, maka segeralah tunaikan kewajiban untuk beribadah pada-Nya. Jangan saat adzan tetapi masih sibuk dengan gadget atau menonton acara televisi. Sehingga anak pun dengan sendirinya akan paham dan sadar bagiamana mengimplementasikan tanggung jawabnya sebagai makhluk Allah.

Selain melalui orangtua, nilai ketauhidan juga bisa lebih ditanamkan pada anak melaui fasilitas pendukung lainnya.  Mulailah dengan memprioritaskan pendidikan anak di tempat pendidikan yang fokus pada ajaran tentang ketauhidan. Dengan lingkungan yang baik, maka akan tercipta karakter yang baik pula. Untuk hal ini diperlukan juga komunikasi yang searah antara orangtua. Kedua orangtua harus paham dan sepakat bahwa keberhasilan orangtua dalam mendidik dan menjaga amanah-Nya, tidak melulu dilihat dari prestasi amazing anak di bidang akademik saja, tetapi bagaimana caranya membuat anak memiliki rasa cinta yang amat besar pada Penciptanya.

Hal lainnya yang perlu dipahami dan dijaga adalah kedekatan antara orangtua dan anak. Meskipun anak telah mendapatkan ilmu dan pendidikan di lembaga pendidikan, bukan berarti orangtua telah selesai tanggung jawabnya untuk mendidik. Teruslah damping anak dan bangun komunikasi yang hangat dalam keluarga. Jangan pernah jadikan kesibukan sebagai tameng untuk beralasan tidak bisa membersamai anak. Sesibuk apapun, usahakan untuk punya celah waktu mendampingi anak. Setidaknya orangtua bisa hadir saat anak ingin bercerita atau sekadar mendengar keluhannya. Jadilah orangtua yang menjadi pilihan prioritas anak untuk setiap ceritanya. Jangan biarkan anak mencari sarana berdiskusi segala hal di luar sebagai tempat pertama meluapkan apapun, yang belum tentu baik untuknya.


Posting Komentar

 
Top