3
Foto: pixabay editted by canva

Pentingnya Peran Ayah Dalam Pengasuhan Dan Mendidik Anak - Banyak orang beranggapan bahwa yang bertanggung jawab penuh terhadap pengasuhan dan mendidik anak adalah ibunya. Sedangkan ayah berperan sebagai pencari nafkah yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya. Pemahaman ini jugalah yang pada akhirnya kerap menjadikan ibu tersangka utama, di saat anak membuat masalah atau berperilaku buruk. Buktinya kita lebih sering mendengar orang berkata, “Pasti ibunya tidak benar mendidik” dibanding ucapan “Ayahnya tidak benar mendidik anaknya.” Apakah anggapan ini sudah tepat sasaran? Apakah benar mendidik dan mengasuh anak mutlak menjadi tanggung jawab ibu semata?

Akibat Hilangnya Peran Ayah Dalam Dalam Mendidik Anak

Fenomena anak-anak yang kehilangan identitas diri, terlibat tidak kriminal, terjerumus dalam pergaulan bebas, melakukan penyimpangan sosial, kenakalan remaja, memakai narkoba, dan banyak kasus-kasus sejenis lainnya, adalah hal krusial yang patut dicari benang merahnya. Salah siapakah semua ini? Apa penyebab anak seperti kehilangan fitrah dirinya? Apakah ini disebabkan oleh lingkungan? Keluarga? Ayah atau ibunya? Atau bahkan ini sudah suratan takdir-Nya?

Photo: Majalah Ummi @pinterest

Berbagai krisis perilaku positif anak yang banyak terjadi, tanpa kita sadari adalah merupakan akibat dari hilangnya peran ayah dalam mendidik anak. Ketidakhadiran sosok ayah secara intens dan optimal dalam mendidik, berakibat pada ketimpangan yang berimbas pada perilaku anak. Karena selama ini hanya ibulah yang selalu mendampingi. Ini pula yang banyak mengakibatkan terjadinya gender disorder di masyarakat. Karena apa? Karena anak tidak mendapatkan sosok teladan dari ayahnya. Padahal lewat ayah anak belajar bagaimana caranya bersikap tegas, menjadi seorang pemimpin, dan menghargai fitrah dirinya sebagai lelaki. Begitu pun dengan anak perempuan. Dengan peran ayah dalam mendidik anak perempuannya, maka akan memberikan pelajaran tentang bagaimana kelak menentukan pendamping ideal, dan dari ayah juga anak perempuan belajar bagaimana caranya menjadi seorang yang tangguh. Termasuk bagaimana cara membela diri. 

Perilaku anak yang keluar dari fitrahnya atau terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan  bisa juga diakibatkan kurangnya dasar-dasar ilmu agama; orangtua, terutama ayah tidak membekali anaknya dengan ilmu dien yang cukup. Padahal seorang ayahu pnya tanggung jawab untuk menjaga keluarganya dari sentuhan api neraka. 

Pentingnya Peran Ayah Dalam Mendidik

Dalam kitab tuhfatul maudud Abdullah bin Umar memberi sebuah nasihat, “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya, dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”

Free photo from pixabay

Dari nasihat itu jelaslah bahwa pola pengasuhan dan mendidik anak bukan dilimpahkan pada seorang ibu semata. Tetapi seorang ayah juga mempunyai porsi peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, dan mendidik anaknya menjadi generasi yang berakhlakul karimah. Baik ayah maupun ibu mempunyai tanggung jawab yang sama atas amanah (anak) yang diberikan Allah pada mereka.Terlebih dalam sebuah keluarga, ayah merupakan seorang pemimpin yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah ta’ala. Ini menjelaskan bahwa baik buruknya anak juga tergantung dari keterlibatan pengasuhan dan cara mendidik sang ayah. 

Masih dalam kitab yang sama, Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa “Betapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karea ia tidak memperhatikan, tidak mendidik, dan tidak memfasilitasi keinginannya, sementara dia mengira telah memuliakannya. Dia juga mengira telah membahagiakannya. Padahal dia telah merendahkan dan mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati  terjadinya kerusakan pada anak, penyebab utamanya adalah ayah”

Mengapa ayah? Karena sejatinya ayah bukanlah hanya sebagai penyuplai faktor-faktor pemenuhan kebutuhan hidup dalam keluarga. Ayah adalah pemimpin, dimana seorang pemimpin itu mempunyai tanggung jawab sangat besar untuk mengarahkan, membimbing, dan menjadi teladan baik bagi yang dipimpimnya. Bukankah Rasulullah SAW yang merupakan sosok ayah teladan terbaik sepanjang masa tidak pernah ragu, atau pun keberatan terlibat urusan mendidik anak-anaknya? Bahkan beliau ikut turun tangan dalam urusan rumah tangga. Rasulullah adalah sebaik-baiknya teladan sebagai sosok ayah. Lantas mengapa kita bersikukuh dengan pendapat bahwa ayah adalah pencari nafkah dan ibu bertugas mendidik anak di rumah? Mengapa para ayah seolah masih enggan berperan dalm ranah domestik atau terlibat langsung dalam mendidik anak?

Tanggung jawab seorang ayah itu begitu besar. Bahkan bisa dikatakan lebih rumit dari hanya sekadar mencari nafkah keluarga.Terlebih ayah punya tanggung jawab untuk menjaga keluarganya dari api neraka, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Q.S At-Tahrim:6 “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu,…”

Al-Qur’an Tentang Sosok Ayah Teladan

Di Al-Qur’an tertulis beberapa kisah luar biasa tentang hubungan seorang ayah dengan anaknya. tentang bagaimana seorang ayah dalam mendidik anaknya. Salah satu diantara kisah yang tentunya sudah tidak asing lagi adalah kisah Luqman dengan anaknya, yang diabadikan dalam Q.S Luqman (13-19). Salah satu bunyi ayat dalam surah Luqman tersebut yaitu, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (Luqman:13)

Dok. Pribadi

Peran ayah sebagai pendidik anak tidak hanya berlaku untuk anak lelaki saja. Tetapi anak perempuan pun butuh peran ayah dalam hal ini. Lihatlah bagaimana Nabi Zakaria AS telah begitu sukses dalam mendidik Maryam. Dengan maksimalnya peran ayah dan diimbangi peran ibu, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi dengan karakter dan perilaku yang positif. 

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia, sudah sepatutnya menjadi pegangan dan panduan dalam kehidupan. Karena Al-Qur’an mengatur segala aspek kehidupan dan memberikan solusi terbaik atas setiap permasalahan. Termasuk dalam hal pengasuhan anak. Setidaknya ada 17 dilaog di dalam Al-Qur’an yang membahas tentang pola pengasuhan. 14 diantaranya merupakan dialog ayah dan anaknya, 2 dialog antara ibu dan anaknya, dan 1 dialog antara orangtua dan anaknya. Porsi ayah yang lebih besar terkait pengasuhan dan mendidik anak ini menunjukkkan bahwa, ayah pada hakikatnya memiliki peranan yang sangat penting dalam pengasuhan. 

Kapan Waktu Terbaik Ayah Untuk Mendidik Anaknya?

Kesibukan mencari nafkah bukanlah sebuah hambatan bagi ayah untuk berpaling dari tugas wajibnya mendidik anak. Proses memberi pelajaran tidak pula harus di waktudan tempat khusus layaknya kurikulum sekolah. Ayah bisa memanfaatkan waktu di momen-momen tertentu untuk memberikan pelajaran.misalnya saat sedang di dalm mobil ketika mengantar anak ke sekolah. Atau saat sedang mengantri di pom bensin, tempat makan, bahkan saat berada di toilet umum.

Free photo from pixabay

Manfaatkan momen tersebut untuk berdialog dan berdiskusi dengan anak. Tidak perlu tentang topik berat. Mulailah dengan hal-hal di sekitar yang dilihat saat itu. Misalnya tentang budaya mengantri ketika sedang  mengantri pengisian bahan bakar kendaraan. Atau bisa juga dengan memberikan ruang bagi anak untuk sekadar bercerita. Mendengarkannya dengan seksama dan penuh rasa antusias, akan membuat anak merasa dihargai dan hal ini baik bagi perkembangan karakternya yang kuat. 

Anak tidak hanya butuh kehadiran ibu dalam masa pertumbuhannya. Kebahagian sejati anak bukanlah dari materi yang berkecukupan. Bukan. Bukan hanya ini semata. Tetapi anak juga sangat butuh kehadiran sang ayah. Karenanya perlu untuk mencari nafakah yang cerdas, agar peran penting ayah sebagai pendidik bisa berjalan optimal. Tumbuhkanlah kepercayaan anak bahwa ayahnya merupakan sosok ideal dalam berbagai aspek. 

Jadi apa sesungguhnya peran Ayah?

Dalam sebuah group diskusi Whatsapp, Ustadz Harry Santosa menjabarkan peran ayah dalam pendidikan, sebagai berikut:

1. A Man of Mission and Vision

Para ayah adalah pembuat misi keluarga, yaitu peran spesifik keluarga dalam peradaban. Lihatlah di dalam Al Quran bagaimana Nabi Ibrahim AS adalah sang pembuat misi keluarga. Misi keluarga beliau diabadikan dalam doa-doanya.

2. Pensuplai Ego

Seorang ayah diperlukan kehadirannya sebagai pensuplai Ego bagi anak anaknya. Supply ego ini memberikan kemampuan “leadership” bagi anak anaknya, sementara ibu pemberi supply Emphaty atau “followership”.

Ayah dengan hadir dalam keluarga akan memberi keteladanan melalui sikap sikap yang berangkat dari fitrah keayahannya dengan menunjukkan ketegasan, pembelaan pada keluarga, ketegaan yang penuh cinta dll adalah supply ego yang berkesan bagi anak.

3. Pembangun Struktur Berpikir Dan Rasionalitas

Ayah dengan rasionalitas berfikirnya, berkontribusi membangun struktur berfikir bahkan inovasi di rumahnya atau di keluarganya. Kalau Ibu memberikan kemampuan emosional.

Alangkah baiknya jika keluarga memiliki family knowledge atau kearifannya sendiri yang diwariskan turun temurun.

4. Pensuplai Maskulinitas

Para ayah diperlukan kehadirannya untuk memberikan suplai maskulinitas baik anak lelaki maupun anak perempuan. Ayah dan Ibu harus hadir sepanjang usia anak sejak 0-15 tahun (Aqil Baligh). Anak lelaki pada usia 7-10 tahun memerlukan lebih banyak kedekatan pada ayahnya untuk menguatkan konsep fitrah kelelakiannya menjadi potensi peran seorang lelaki sejati.

5. Ayah Sang Raja Tega

Pada usia 10 tahun ke atas, anak anak perlu diuji kemandirianya, keimanannya dgn beragam program, nah para ayahlah sang raja tega yang mampu memberikan tugas tugas berat untuk menguatkan potensi potensi anak menjadi peran peran peradabannya kelak. Dalam hal ini ibu sebagai “sang pembasuh luka” yang memberi penawar bagi keletihan dan obat bagi luka dalam menjalani ujian.

6. Ayah Penanggungjawab Pendidikan

Sesungguhnya ayahlah penanggungjawab pendidikan, yang merancang arah dan tujuan pendidikan keluarganya sesuai misi keluarganya. Ibulah yang kelak mendetailkannya menjadi proyek atau kegiatan harian.

Secara fitrah bahasa, wanita lebih cerdas bahasa dibanding para lelaki. Wanita bicara 50rb sampai 70rb kata perhari, jadi ibu memang lebih banyak membersamai anak.

7. Ayah Konsultan Pendidikan

Melihat bahwa seorang lelaki “single tasking” dibanding wanita yang “multi tasking”, para ayah tidak bisa terlalu banyak turun dalam hal detail, bahkan mereka perlu lebih banyak berada di luar masalah agar bisa memberikan solusi yang jernih bagi para ibu yang dalam kesehariannya sudah dipenuhi banyak masalah dalam mendidik.

Kehadiran seorang ayah dan ibu dalam pendidikan anak, diperlukan sejak anak didalam kandungan sampai usia 15 tahun (aqilbaligh). Secara fitrah seksualitas, kelekatan (attachment) ayah, ibu dan anak sangat penting dibangun.

• Usia 0-2 tahun lebih didekatkan pada ibunya karena ada proses menyususi dan mother tongue
• Usia 3-6 tahun ananda harus dekat dengan ayah dan ibu, usia 3 tahun anak harus jelas menyebut identitas gender-nya
• Usia 7-10 tahun anak lelaki didekatkan pada ayah, anak perempuan didekatkan pada ibu, agar memperoleh potensi sesuai gender-nya
• Usia 11-14 tahun anak lelaki lebih didekatkan ke ibunya, dan anak perempuan lebih didekatkan ke ayahnya.

Anak-anak adalah amanah yang Allah titipkan. Sebagai penerima amanah, sudah seharusnya kita menjaga dengan sebaik mungkin amanah tersebut. Hilangkan pemahaman bahwa menjadi ayah yang baik adalah dengan mampu memberikan segala fasilitas dan memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik. Ingatlah anak butuh kehadiran ayah untuk mendapatkan sosok teladan sempurna di matanya. Lihatlah beberapa kasus anak-anak yang justru jauh dari kata merasa bahagia, sedangkan mereka sangat tercukupi secara materi. Kondisi ini kembali membuktikan bahwa kecukupan materi bukanlah penjamin kebahagiaan. Tetapi kehadiran kedua orangtua yang lengkap, yang mampu menjalankan fitrah perannya dengan baik, adalah pondasi kuat untuk menjadikan anak seorang yang much more happier, berkarakter, dan berperilaku positif. 


Note: Beberapa informasi diambil dari hasil kulwap bersama Ustadz Harry Santosa dengan sedikit penyesuaian. 












Posting Komentar

  1. Meskipun ayah sebagai pekerja yang mencari nafkah, tapi berperan penting untuk bounding dengan si buah hati

    BalasHapus
  2. Peran orang tua sangt penting dalam perkembangan anak terlebih pendidikan di rumah

    BalasHapus
  3. Iya banget, walau Ayah saya meninggal ketika saya masih SD, tapi teladannya masih nempel hingga kini

    BalasHapus

3 Tahun Tapis Blogger, Semakin Terdepan Mengenalkan Lampung

Squad Tapis Blogger A : Kamu tinggal di Lampung sudah berapa lama? B : Seperempat abad A : Selama itu apa saja yang sudah kamu laku...

 
Top