0
Di sepertiga malam


Siapa sih yang tidak tahu kedahsyatan menunaikan sholat tahajjud? Semua Muslim pastinya sudah sangat paham, bahwa ibadah di sepertiga malam ini memiliki keajaiban yang luar biasa. Itulah mengapa sholat sunnah yang satu ini kerap menjadi sebuah kebanggaan, bagi mereka yang mampu melaksanakannya. 


Keistimewaan yang ditawarkan sholat yang juga sering disebut qiyamul lail ini, memang sangat menggoda. Terlebih ibadah ini juga sangat dimuliakan oleh Allah. Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam pun sangat mencintai ibadah ini. Bahkan beliau akan menggantinya dengan mengerjakan 12 raka'at sholat dhuha di pagi hari, tatkala terlewat untuk tahajjud. 


Dalam kehidupan kita pun, telah sering terdengar berita orang-orang yang mendapatkan keajaiban hanya karena rutin bangun untuk sholat malam. Banyak dari mereka yang dipermudah meraih hajat melalui kebiasaan bertahajjud. Ya, hal ini juga sebagaimana yang telah Allah Ta'ala janjikan dalam firman-Nya, dimana Allah telah berjanji akan mengabulkan doa mereka yang melaksanakan sholat di waktu malam dengan penuh keikhlasan. 


Sholat tahajjut di sepertiga malam

Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam Bersabda,


 “Sesungguhnya di malam hari , ada satu saat yang ketika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah memberinya, Itu berlangsung setiap malam.” (HR. Muslim)


MasyaAllah, betapa besar nikmat yang Allah berikan jika kita mampu istiqomah dalam taat. Sayangnya, tidak semua pelaku tahajjud dapat meraih segala berkah dan keistimewaan dari ibadah di sepertiga malam. Mengapa? Mungkin niat yang masih setengah-setengah, atau berharap mendapat imbalan. 


Hal ini sebagaimana yang pernah terjadi pada sang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim. Kecintaanya pada ibadah memang sangat luar biasa. Terlebih untuk perkara menunaikan sholat tahajjud. Ia selalu rutin mendirikan sholat tersebut selama bertahun-tahun. Tak pernah tertinggal walau hanya sekalipun. 


Namun suatu ketika saat ia ingin berwudhu untuk sholat malam, ada sesosok makhluk yang sedang duduk ditepian sumur miliknya. Ia sangat terkejut. Namun berusaha untuk tetap tenang. Kemudian ia memberanikan diri bertanya, "Wahai hamba Allah, siapakah dirimu? Makhluk tersebut tersenyum padanya, dan berkata, " Aku adalah Malaikat yang diutus Allah. 


Sholat di waktu sepertiga malam

Abu tentu sangat terkejut. Namun ia pun juga amat bangga. Karena kehadiran sosok yang mulia di depannya. Dengan rasa penasaran, ia pun kembali bertanya pada Malaikat, "Sedang apakah kamu di sini wahai Malaikat Allah?" Malaikat pun segera menjawab, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk mencari hamba yang mencintai-Nya.


Pada saat itu Malaikat sedang memegang sebuah buku tebal. Abu pun kembali penasaran saat melihatnya. Kemudian ia pun bertanya lagi pada Malaikat, "Wahai Malaikat, buku apakah yang sedang kau pegang?” Malaikat menjawab, “Ini adalah buku yang berisi kumpulan nama para hamba yang sangat mencintai Allah.” 


Abu langsung merasa senang ketika mendengar jawaban dari Malaikat. Di dalam hatinya, Abu bin Hasyim sangat berharap bahwa namanya ada di dalam lembaran buku itu. Untuk memastikannya, ia pun kembali bertanya kepada Malaikat, “Wahai Malaikat Allah, apakah namaku ada di dalamnya juga?” 


Abu sangat yakin bahwa namanya pasti ada, diantara nama orang-orang yang mencintai Allah di dalam buku itu. Hal ini karena ia merasa amalan ibadahnya yang tekun dan selalu berusaha menjaganya. Ia juga senantiasa menunaikan ibadah sholat tahajjud setiap malamnya. Tak hanya itu, ia pun selalu berdo’a, berdzikir, dan bermunajat pada Allah Ta'ala di sepertiga malam. 


“Baiklah, aku akan buka ini,” kata Malaikat. Ternyata Malaikat tidak dapat menemukan nama Abu di dalamnya. Merasa tidak percaya, Abu pun meminta Malaikat mencarinya lagi. Mungkin terselip pikirnya. Namun kembali Malaikat menegaskan,  “Betul, namamu memang tidak tertulis di dalam buku ini.” 


Mendengar itu semua, Abu bin Hasyim langsung gemetaran. Ia pun tiba-tiba jatuh tersungkur di hadapan Malaikat. Abu menangis sesenggukan. Semakin sedih dan sangat sedih. “Betapa meruginya diriku selama ini. Aku selalu bangun malam untuk sholat tahajjud, disaat banyak orang masih terlelap tidur. Aku bermunajat setiap malam. Namun aku tidak termasuk golongan hamba Allah yang mencintai-Nya."


Melihat ratapan Abu, Malaikat pun berkata, " Wahai Abu, Aku bukannya tidak tahu engkau tahajjud setiap malam, di saat yang lainnya memilih tidur. Kau selalu berwudhu kedinginan, di saat yang lainnya hangat dalam selimut. Namun Allah melarangku menuliskan namamu."


"Mengapa demikian?" Tanya Abu bin Hasyim. Malaikat menjawab, “Engkau memang selalu menjaga ibadah dan amalan. Sayangnya engkau juga kerap berbangga diri, memamerkan kemana-mana, dan beribadah hanya untuk dirimu sendiri." Kau tampak tidak peduli disaat ada orang di kanan kirimu yang kelaparan atau pun sakit. Kau tidak menjenguk atau memberi mereka makanan. Itulah mengapa namamu tidak terdaftar di golongan para pecinta Allah."


"Bagaimana mungkin engkau tergolong hamba yang mencintai-Nya, sedang engkau tidak mau mencintai para hamba yang diciptakan oleh-Nya?" Lanjut Malaikat. Mendengar itu semua, Abu pun merasa sangat tertampar. Ia pun akhirnya sadar, bahwa menjadi hamba yang mencintai Allah dan dicintai Allah tidak terbatas pada ibadah kepada Allah semata. Akan tetapi hal ini termasuk di dalamnya hubungan yang baik kepada sesama manusia.


So, jangan pernah bangga hanya karena amalan ibadah kita yang melebihi orang lain. Karena jika kita tidak mampu membina hubungan yang baik kepada makhluk-Nya, maka bisa jadi amalan ibadah kita itu akan sia-sia. 



Coba kita renungkan sejenak dialog Nabi Musa 'alayhisallam dengan Allah berikut: 


"Wahai Allah, aku telah melaksanakan semua ibadah. Lantas ibadah manakah yang membuat Engkau senang?"


Allah menjawab, "Wahai Musa, sholatmu adalah untuk dirimu sendiri. Karena dengan sholat, maka kau terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Dzikirmu pun untuk dirimu sendiri. Karena dengannya hatimu jadi tenang. Puasamu juga, untuk dirimu sendiri. Karena ia akan melatihmu dalam memerangi hawa nafsu."


Nabi Musa 'alayhisallam bertanya lagi, "Lalu apakah yang membuat-Mu merasa  senang yaa Allah ?"


"Sedekah, zakat, infaq, dan segala perbuatan baikmu. Karena saat kau membantu mereka yang sedang susah, Aku hadir disampingnya. Dan akan Ku ganti sedekah itu dengan ganjaran 700 kali lipat."  (Al-Baqarah: 261-262)


Bagaimana? Ibadah di sepertiga malam memang sangat mulia. Namun kemuliaan itu tidak akan sempurna jika kita hanya sibuk mencintai diri sendiri, bukan Allah. Karena mencintai Allah, berarti mencintai apa yang Allah cintai, tanpa terkecuali. Semoga kita tergolong para pecinta Allah sejati. Aamiin 


Posting Komentar

 
Top