14
Foto by: Latifah Lustikasari

Urgensi Membudayakan Sensor Mandiri, Demi Membentuk Generasi Bangsa – Seorang sutradara asal Prancis, Jean Cocteau mengatakan, “A film is a petrified fountain of thought” (Sebuah film adalah sebuah pikiran yang membatu). Ini artinya sebuah film mampu menanamkan suatu pemahaman abadi bagi siapa pun yang menikmatinya. Dan yang menjadi masalah saat ini adalah, bagaimana jika konten dalam sebuah film itu tidak layak tonton? Atau dengan kata lain film tersebut hanya mengedepankan hiburan semata tanpa memiliki unsur manfaat, misalnya dari segi moral messages atau education-nya. Hal ini tentunya akan memberikan dampak yang kurang baik bagi penonton. Terutama anak-anak (generasi) harapan bangsa. Untuk itu perlu adanya penyensoran, agar sebuah film atau iklan layak dikonsumsi masyarakat.

Bertempat di Cafe G’Ummati Bandarlampung, Lembaga Sensor Film Republik Indonesia bekerjasama dengan Komunitas Tapis Blogger, menggelar Talk Show bertajuk “Budaya Sensor Mandiri, Bijak Membentuk Generasi” dengan menghadirkan dua orang narasumber, Ni Luh Putu Elly Prapty Erawati, M.Pd (Sekretaris Komisi I Bidang Penyensoran dan Dialog LSF RI) dan Naqiyyah Syam (Founder dan Ketua Tapis Blogger). Acara yang berlangsung pada tanggal 11 Oktober 2018 ini dihadiri 100 peserta yang terdiri dari berbagai profesi seperti blogger, penikmat film, mahasiswa, UMKM Lampung, dan lainnya. Sosialisasi sensor mandiri ini sendiri adalah wujud kepedulian LSF (khususnya) terkait perilaku menonton sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini.

Acara dimulai sekitar pukul 09:00 WIB dengan dipandu oleh Novi Nusaiba yang juga merupakan anggota Tapis Blogger. Tak lama acara inti pun dimulai dengan menghadirkan mbak Ni Luh sebagai pemateri pertama. Rasanya sudah tidak sabar ingin mendengar pemaparannya. Karena aku juga sangat penasaran dengan peran Lembaga Sensor Film Indonesia. Terlebih saat ini masih banyak tayangan yang kurang memiliki kandungan gizi. Kebanyakan hanya mementingkan profit tanpa memerhatikan segi edukasi, kearifan budaya, atau pun nilai-nilai moral lainnya.


Foto by: Latifah Lustikasari

Dan rasa penasaran itu pun terjawab dengan dipaparkannya tentang genre film yang banyak diminati masyarakat Indonesia saat ini. Rangking teratas ditempati oleh film-film bertema horor, disusul film yang diangkat dari novel best seller, film remake, dan film dari lagu terkenal. What a surprising thing. Sungguh sangat mengejutkan. Tahu sendiri kan bagaimana film horor yang saat ini banyak beredar. Jadi tak perlu dijabarkan lagi bagaimana isi  dan jalan cerita film horor tersebut. Mengapa di era modernisasi ini justru masyarakat tidak suka menonton film yang berkonten edukasi atau dapat memberi dampak pada character building, seperti film religi dan perjuangan?


Mengapa Film Horor Menguasai Pasar Perfilman Indonesia?

Tidak bisa dipungkiri bahwa film horor memang menarik ditonton. Bahkan tak jarang seorang penakut pun ikut penasaran untuk menontonnya. Meskipun saat menonton selalu pasang aksi tutup wajah dengan telapak tangan. Dan ini pulalah yang pada akhirnya meggerakkan rumah produksi dan produser film untuk membuat film-film horor. Hal ini seperti apa yang dipaparkan oleh mbak Ni Luh terkait film horor di tanah air, bahwa bagi produser film memproduksi film horor itu jauh lebih menguntungkan. Karena biaya produksinya murah serta peminatnya banyak. Hal ini berbanding terbalik dengan film ber-genre lain yang terkadang biayanya mahal tetapi peminatnya sedikit.

Tak lupa mbak Ni Luh juga mengajak para influencer, blogger, dan masyarakat untuk turut berperan serta dan bersinergi bersama. Karena seiring kemajuan teknologi informasi, maka tugas Lembaga Sensor Film juga semakin berat. Namun dengan sinergi ini tentunya tugas itu dapat lebih ringan dan memungkinkan hasil yang lebih baik tentunya.

Selain fakta tentang film horor yang menduduki singgasana teratas, mbak Ni Luh juga menyampaikan sebuah fakta bahwa dalam tayangan televisi, tayangan yang paling banyak ditonton masyarakat Indonesia adalah serial (33%), hiburan (16%), film (15%), anak-anak (11%), berita (10%), informasi (9%), olahraga (4%), dan religi (2%). Hal ini sangat tidak sesuai dengan harapan masyarakat yang katanya ingin tayangan televisi bermuatan unsur pendidikan. Namun pada kenyataannya, masyarakat justru lebih banyak menyaksikan tayangan yang tidak mengandung nilai edukasi. Pemaparan demi pemaparan yang disampaikan mbak Ni Luh semakin membuat kami serius menyimak dan penasaran. Lantas apa peran lam Lembaga Sensor?

Peran dan Tugas Lembaga Sensor

Peran Lembaga Sensor diatur dalam Undang-Undang No. 33 tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No.18 tahun 2014 tentang perfilman Indonesia. Dan LSF sendiri telah bekerja dan melakukan fungsinya sesuai dengan Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah tersebut. Sedangkan untuk tugasnya sendiri, Lembaga Sensor betugas melakukan penyensoran film dan iklan film sebelum diedarkan dan atau dipertunjukkan kepada khalayak umum, melakukan penelitian dan penilaiaan (judul, tema, gambar, teks terjemahan) suatu film dan iklan film yang akan diedarkan kepada khalayak umum, dan menentukan penggolongan usia penonton film.

Kategori Klasifikasi Usia Penonton

1. Semua Umur (SU)
Film dengan kode ini berisi konten yang tidak merugikan perkembangan kesehatan fisik dan jiwa anak-anak.
2. 13+
Film dengan kode ini cocok bagi anak-anak beranjak dewasa.
3. 17+
Film dengan kode ini cocok untuk usia 17 tahun keatas, dimana hal-hal sensitif disajikan proporsional dan edukatif.
4.  21+
Film dengan kode ini cocok bagi usia dewasa,dimana hal-hal sensitif disajikan tidak berlebihan. Tayangan di televisi setelah pukul 23:00-03:00 waktu setempat.



Keberadaan lembaga sensor ini memang sangat membantu masyarakat dalam mem-filter konten tayangan sebelum sampai ke khalayak ramai. Namun di satu sisi lembaga sensor film juga dihadapkan pada keluhan dari masyarakat, baik pihak rumah produksi atau pun masyarakat umum. Sebagaimana yang disampaikan mbak Ni Luh bahwa pihak sensor film kerap menerima keluhan dari produser film terkait konten yang di sensor, yang dianggap menarik penonton. Sedangkan jika tidak ketat melakukan penyensoran, maka keluhan akan datang dari masyarakat. Oleh karena itulah, perlu adanya sinergi bersama dalam mensosialisasikan sensor mandiri, agar masyarakat juga teredukasi tentang pentingnya menyaring tayangan yang bermutu dan bermanfaat.



Sensor mandiri adalah perilaku secara sadar dalam memilah dan memilih tontonan. Nah, sudahkah kita melakukannya? Atau justru lebih suka jika tontonan tanpa proses sensor? Dan…faktanya kebanyakan lebih suka film tanpa disensor. Hal ini terungkap nyata saat mbak Ni Luh menanyakan peserta, apakah suka film disensor atau tidak? Mungkin bisa saja film tanpa sensor seperti halnya negara lain seperti Amerika misalnya. Tetapi masyaraktnya telah teredukasi dengan baik perihal manfaat dari film itu sendiri. Sedangkan kita? Lihatlah betapa banyak berita yang menyampaikan tindak kekerasan yang terjadi akibat sebuah tayangan film atau televisi. Ini artinya, film sangat berpengaruh pada pembentukan karakter seseorang. Dan inilah pentingnya menyensor tayangan. Hal ini bisa dimuali dari diri kita sendiri dengan melakukan sensor mandiri.

Mengapa Perlu Sensor Mandiri?

  1. Adanya perkembangan dan perubahan teknologi.
  2. Revolusi digital (perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke digital)
  3. Konversi teknologi (teknologi mekanik-teknologi digital)
  4. Konvergensi media (kombinasi berbagai jenis media)
  5. Perubahan akibat perkembangan teknologi.
Bagaimana Menerapkan Sensor Mandiri?

  1. Mulai pilih film bermutu
  2. Butuh atau ingin
  3. Nonton film sesuai usia
  4. Tentukan tujuan
  5. Apa hikmahnya
  6. Berpikir kritis
  7. Jangan hanya jadi penikmat
  8. Pendampingan, pembatasan jam nonton, memilihkan film, dan perbanyak kegiatan luar.
  9. Pembatasn penggunaan HP pada anak
  10. STLS
  11. Genre film
  12. Cek sumber
  13. Cek sinopsis

Minimal 13 poin di atas bisa menjadi acuan dalam sensor mandiri. Terutama di era digital saat ini yang sangat memudahkan siapa pun mengakses dan memilih film. Jika tidak dimulai dari diri kita, maka kedepannya sikap dan perilaku generasi ini akan terkontrol oleh suguhan film yang ditonton.

Hal-Hal Yang Perlu Diwaspadai Dalam Film

  1. Tidak menghina, melecehkan, menodai, menistakan, dan bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, lambang atau simbol negara
  2. Tidak mendorong perilaku permisif, yang dapat merusak ketahanan budaya bangsa
  3. Tidak mendorong seseorang melanggar hukum
  4. Tidak mendorong perilaku konsumtif

Selain 4 poin itu, perlu juga diperhatikan hal- sensitif dalam sebuah film yang berkaitann dengan: agama; perjudian; kekerasan; diskriminasi; narkotika, psikotropika, dan zat aditif (NAPZA); dan pornografi.

Kemudian di akhir materi dari mbak Ni Luh, ditayangkan sebuah video anak balita sedang nonton film Rambo, yang mengikuti gaya serta adegan di film itu. Can you imagine? Hal ini tentunya sangat memprihatinkan sekaligus mengerikan, bukan?

Kemudian materi kedua disampaikan oleh mbak Naqiyyah Syam, yang dibuka dengan perkenalan singkat tentang pengalamannya di bidang literasi dan blogging. Mbak Naqi menyampaikan materi berkaitan dengan "Budaya Sensor Mandiri, Bijak Membentuk Generasi."


Dalam pemaparannya, mbak Naqi menyampaikan bahwa gadget sangat berpengatuh terhadap fungsi perkembangan otak dan sikap anak terhadap sekitarnya. Hal ini juga telah dinyatakan dalam sebuah studi yang mengatakan bahwa terlalu banyak bermain gadget akan mempengaruhi fungsi otak dan sikap anak yang kurang peduli pada sekitarnya. Inilah mengapa pentingnya membatasi penggunaan gadget pada anak. Dan perbanyak aktivitas anak untuk bermain di luar. 

Selain itu, mbak Naqi juga menyampaikan tentang dampak buruk menyaksikan tayangan porno. Berikut akibat buruk dari nonton video porno.

1. Tidak bisa menundukkan pandangan
2. Bebas melihat aurat orang lain
3. Ketagihan
4. Melihat di pikiran
5. Berujung pada Onani
6. Waktu dan uang habis percuma
7. Daya kerja berkurang
8. Merusak otak
9. Dampak buruk pada aktivitas sexual

Wow, mengerikan sekali efek sampingnya, bukan? Jadi jangan pernah coba-coba. Karena sekali saja mencoba, kamu akan terserang virus addicted. 

Terakhir mbak Naqi mengajak agar blogger dan penggiat medsos di Lampung khususnya, untuk giat menebarkan konten positif dan mendukung film baik. “Ketika ada film baik di bioskop hendaknya kita dukung dengan menontonnya, sehingga film bertema edukasi juga banyak penontonnya," ujar mbak Naqi.

Berbicara film baik, aku pernah punya pengalaman memprihatinkan. Jadi saat itu aku pergi ke salah satu bioskop di Lampung untuk nonton salah satu film religi karya mbak Asma Nadia. Tetapi ternyata penontonnya hanya aku sendiri. This is real. Kebanyakan penonton tengah asik mengantri untuk menonton film lain yang menurutku tidak ada sisi edukasi atau manfaatnya. Just to entertain. Dan lebih miris lagi, keesokan paginya kudengar kabar bahwa film yang kutonton semalam telah diturunkan.

Tips Menonton Film

1. Buat jadwal keluarga
2. Beri fasilitas lain. Misalnya buku, alat olahraga dan ajak jalan-jalan
3. Orangtua jadi contoh bagi anak
4. Lingkungan





Setelah kurang lebih satu jam mendengarkan pemaparan mbak Naqi, sesi berikutnya adalah tanya jawab. Banyak peserta antusias mengajukan pertanyaan. Mereka semua tampak penasaran dengan realita yang dipaparkan nara sumber dan perilaku masyarakat yang lebih condong suka menikmati tontonan tanpa memilah dan memilihnya dulu. Beberapa penanya berasal dari para blogger, mahasiswa, dan masyarakat umum.

 
Foto by: Yandigsa

Sekitar pukul 12:00 WIB acara pun selesai yang ditutup dengan pengumuman lomba foto dan live event di Instagram. para pemenang hari itu berhak atas sejumlah hadiah yang disiapkan para sponsor yang mendukung acara. Tak lupa di akhir acara kami semua diajak untuk mengabadikan momen ini dalam sesi foto bersama. Setelah itu acara penutupan dilanjutkan dengan sanatap siang bersama menikmati hidangan cafe G'Ummati yang telah disiapkan di lantai bawah. Terima kasih atas acara yang sangat bermanfaat ini. Semoga dengan ini kami bisa turut menularkan semangat positif dengan menebarkan konten positif dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sensor mandiri. 



Referensi Tulisan

1. Mengenal Sensor Mandiri : Pedoman Literasi Film dari Lemeaga Sensor Filim Republik Indonesia.
2. Slide/ PPT pemateri Ni Luh Putu Elly Prapti Erawati, M. Pd dan  Nagiyah Syam

#TapisBlogger
#BloggerLampung
#LSFXLAMPUNG
#BudayaSensorMandiri .

Kegiatan ini disupport by :
@flpbandarlampung
@kopfi_lampung
@thasya_busana
@almitryindo
@keripikaromasejati
@perutbulatcaferesto
@papatomscafe
@famediapublisher
@gummati.cafe


Posting Komentar

  1. Wah, Kak Rika tulisannya detail. Semoga kita menjadi penonton yang bijak, ya. Terimakasih. ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Uni. Semoga penonton semakin bijak dalam memilih tontonan

      Hapus
  2. Sip sip. Bersyukur jadi bagian dari acara ini

    BalasHapus
  3. Sukses untuk acaranya, Wah mantap banget nih ulasannya.

    Ikut prihatin dengan fenomena di dunia perfilman yang ada di Indonesia yang semakin berkurang dalam memberikan informasi edukasi kepada penontonnya.

    Bisa kita lihat dalam tayangan di layar kaca televisi sangat miris. Banyak tayangan yang tidak mengedukasi apalagi untuk usia anak-anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mas. iya aku juga sedih kalau lihat tayangan sekarang. Masih banyak yang hanya mementingkan nilai komersial dari pada pesan moral

      Hapus
  4. Alhamdulillah acara Talk Show Budaya Sensor Mandiri Tapis Blogger kerjasama dengan LSF RI sukses dan pesertanya juga banyak dapat ilmu dan teman baru

    BalasHapus
  5. Horor selalu membeludak penontonnya. Tapi kalau film horor macam Pengabdi Setan sih aku setuju kalau booming.. soalnya bagus hehew

    Banyak ya Mbak yg perlu disensor dan diperhatikan sebelum menonton film.. semoga semakin banyak film baik yg edukatif..

    BalasHapus
  6. Sensor mandiri memang perlu banget ya meskipun sudah ada lembaga sensor film yang memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mensensor film dan acara yang tampil di televisi.
    Saya setuju banget dengan tulisan diatas. Sensor mandiri itu harus memilih dan memilah. Apalagi dengan genggaman smartphone kita dengan beragam informasi. Yg kadang informasi itu bisa saja tidak bermanfaat untuk kita. Terutama untuk anak anak kita.

    BalasHapus
  7. Keren mbak. Lengkap infonya. Mantap banget dahh.. Ilmunya bisa dibagi2 buat yg ga bisa hadir kayak aku gini :D

    BalasHapus
  8. Senang bergahung dengan komunitas yang produktif ini, Tapis Blogger. Banyak kegiatan bermanfaat yang digelar untuk anggotanya dan masyarakat luas.

    BalasHapus
  9. lengkap banget infonya.... so, tengkyu :)

    BalasHapus

3 Tahun Tapis Blogger, Semakin Terdepan Mengenalkan Lampung

Squad Tapis Blogger A : Kamu tinggal di Lampung sudah berapa lama? B : Seperempat abad A : Selama itu apa saja yang sudah kamu laku...

 
Top