0
Astaghfirullah, banyaknya stigma negatif yang berseliweran di media sosial terkait aksi damai 4 november lalu, membuat batin saya terusik untuk menuangkan uneg-uneg dan kegeraman saya di tulisan ini. Awalnya saya berusaha menahan dan menyikapi dengan bijak setiap status dan komentar beberapa kenalan di media sosial, yang cenderung menghina dan menyalahkan aksi damai ini. Namun ucapan yang di tuliskan oleh beberapa teman dekat itu membuat hati nurani saya terpanggil untuk menyuarakan pembelaan lewat tulisan ini.

Aksi 4 november bukanlah aksi menyebarkan kebencian seperti yang kalian prasangkakan. Ini adalah bentuk kecintaan kami pada kitab suci kami, pada agama kami. Agama kami tidak pernah mengajarkan kami untuk membenci, memprovokasi ataupun melecehkan. Kami di ajarkan bertoleransi dan menghormati bahkan terhadap non muslim. Jadi tolong hentikan hujatan kalian. Kami bukan kaum pembenci, perusak, pro kekerasan dan tak tau adab.  Ini sikap kami pada sang penista agama yang tidak bisa menjaga lisanya. Bukankah kalian pun akan melakukan hal yang sama jika agama dan kitab suci kalian di lecehkan?

Sang penista sudah seharusnya di adili. Masih ingatkah kalian tahun lalu ia mengatakan "Agama Kristen itu konyol." Tidakkah kalian sakit hati? Lantas mengapa kalian masih membelanya? Sebegitu bencikah kalian pada muslim? Sehingga aksi bela agama kami ini kalian katakan berbau vandalisme? Aksi kami berlebihan? Sungguh picik sekali paradigma kalian. Kami lakukan aksi ini karena hati ini sudah terlalu sakit. Sudah terlalu sering umat islam mengalami diskriminasi. Selama ini kami berusaha diam dan bersabar atas tindakan-tindakan sekelompok orang yang selalu memojokan Islam, menghina dan melecehkan.

Ingatkah saat pembakaran Masjid di Tolikara Papua saat umat Muslim hendak sholat Id? Apa yang terjadi? Pelakunya justru di undang makan ke istana. Miris sekali. Bandingkan dengan pembakaran Gereja di Singkil Aceh. Saat itu pelakunya tewas ditembak di tempat. Sedang yang hidup menginap di hotel prodeo. Dan menurut saya, ini sungguh diskriminasi yang luar biasa.

Bisa kalian bayangkan bagaimana perasaan kami? Sedih dan kecewa. Jadi salahkah kami jika sekarang menuntut keadilan? Salahkah kami membela apa yang sangat kami cintai? Ini bukti cinta kami pada Allah, pada Alquran, dan agama ini. Ini jihad kami. Lagipula kami tidak beraksi rusuh. Jikapun ada itu bukan dari pihak kami.

Kalian juga pasti sudah menyaksikan tayangan live stasiun tv terpercaya, bukan? Kami tidak menyerang karena komitmen kami memang aksi damai. Kami justru bertahan tanpa perlawanan saat kami di serang. Masihkah kalian menyangkal? Masih tegakah kalian menghujat dan mengatakan kami kaum anarki? Maaf temanku, sepertinya kita tidak bisa berteman lagi. Hatiku sakit dan kecewa atas sikap dan pernyataan kalian itu.

Tapi kutegaskan sekali lagi. Ini bukan perlawanan dan kebencian terhadap kalian. Kami sangat menghargai kalian. Kami hanya menuntut keadilan dan percepatan proses hukum atas sang penista agama yang tidak pandai mengontrol lisanya. Akan lebih baik jika kita tetap dalam hubungan baik dan saling toleransi seperti sebelumnya. Jangalah membela satu orang yang jelas bersalah dan mengorbankan ratusan umat yang terdzolimi.

Posting Komentar

Tips Mengajak dan Melatih Si Kecil Berpuasa

Foto: Freepik editted by Canva “Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang ...

 
Top