0
“Mil, yang sabar ya. Kita semua disini buat kamu.” Kata  Sefia memeluknya.


“It’s not the end beb (panggilan kesayangan di antara mereka). Come on, wake up and smell the coffee.” Kata Gea yang suka ngomong bahasanya orang London dengan gayanya bak seorang motivator.


“Iya Mil, walaupun tanpa Arfan kamu masih bisa bahagia and senang-senang. Masih ada kita-kita yang ga akan pernah ninggalin kamu apapun keadaanya. Ingat moto kita “WE ARE ONE”.” Tambah Lila menimpali.


Ramila sangat terharu dengan perlakuan dan kepedulian para sahabatnya hingga ia meneteskan airmata. Saat Ramila sudah mengusap airmatanya, Gea mulai menyampaikan rencana liburan itu. Ramila pun setuju untuk berlibur bersama mereka karena sebenarnya ia juga tidak ingin terus bersedih terkait kandasnya hubungan asmara dirinya dengan Arfan. Ia hanya butuh waktu untuk menata hatinya. Dan menurut Ramila inilah saat yang baik untuk  menyegarkan pikirannya.


Dua hari kemudian pukul 11:00 pagi mereka berlima berangkat menuju Padang dari bandara Soekarno Hatta. Tiga jam kemudian mereka tiba di Padang. Setelah itu mereka naik taksi menuju kampung tanah datar, tempat di mana mereka akan menginap di rumah kosong milik keluarga Gea. Satu jam kemudian mereka pun tiba tepat di halaman depan rumah, sebuah rumah panggung khas Minang yang masih cukup terawat. Mereka di sambut oleh uda Khalid yang selama ini merawa rumah itu. Ia segera mengantarkan Gea dan teman-temannya masuk ke dalam rumah. Sebelum berpamitan, uda Khalid berpesan agar mereka menjaga sikap dan ucapan selama berada di rumah itu dan jangan keluar jika malam hari tiba. Tak lupa ia juga meminta mereka untuk tidak meremehkan larangan yang ia katakan dan tidak melalaikan ibadah wajib mereka.


Hari itu mereka memutuskan untuk beristirahat saja dan baru akan memulai penjelajahan mengelilingi kota Padang keesokan harinya. Lila, Sefia, dan Alya langsung menuju kamar untuk segera beristirahat. Sedangkan Gea dan Ramila memilih untuk membereskan barang-barang mereka.


“Ge, kamar mandinya di sebelah mana ya? Aku mau taruh perlengkapan mandi ini. aku juga ingin buang air kecil.” Tanya Ramila menahan rasa ingin buang airnya yang tiba-tiba saja muncul.


“Kalau kamar mandi ada di bawah di samping rumah, Mil.” Jawab Gea.


Ramila bergegas lari menuruni tangga kecil menuju ke kamar mandi. Kreeekkk...bunyi pintu kamar mandi saat di buka. Terlihat dalam kamar mandi yang tidak begitu besar dengan sebuah bak semen berukuran sedang sebagai penampung air dan sebuah WC jongkok yang sudah agak kusam.

(Bersambung)

#OneDayOnePost3
#MiniCerbung


Bandar Lampung, 6 Januari 2017

Posting Komentar

 
Top