0


"Tidak mungkin dia datang". Celetuknya dalam hati yang diikuti raut kesal wajahnya. 

Kelas drama itu terasa membosankan bagi Lila. Disaat yang lain sibuk memahami dialog Shakespeare, ia malah terpaku menatap pintu kaca di ujung kanan. Namun seketika wajahnya berseri kala pintu itu bergeser dan muncullah sosok penyemangat itu, Titan.

"Hai sudah dari tadi? Disuruh apa?" Tanya Titan yang langsung duduk di sebelahnya.

Lila menggangguk sambil menunjukan tugas yang diberi dosen mereka. Sesekali ia mencuri pandang memerhatikan Titan yang serius memahami dialog Midsummer Night Dream karya William Shakespeare itu. 

Kampus adalah tempat yang mampu menyumbang banyak keceriaan bagi Lila. Karena ia bisa terus bertemu dengan Titan, pemuda yang selalu tersenyum hangat saat menyapanya. Sayangnya keceriaan itu akan tertidur selama tiga bulan kedepan karena masa libur kuliah. 

Ditutupnya kembali diary biru yang baru ditemukannya di meja perpustakaan. Ia tertegun sejenak memikirkan cerita yang baru dibacanya karena diary itu terbuka di halaman akhir tulisan yang belum selesai. 

"Rasanya cerita ini tidak asing". Bisik Arfabian dalam hati. Ia terus berpikir hingga ia sadar cerita itu berhubungan dengan kejadian yang ia alami kemarin di kelas drama. Akhirnya ia pun tahu siapa pemilik diary tak bernama itu dan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tadi. Sang wanita adalah seorang gadis yang cukup dekat dengannya, yang selalu tersenyum hangat namun tak berani beradu pandang lama dengannya saat berbicara. "Ainaya? Ya dia Ainaya. Tidak salah lagi". Celetuknya tiba-tiba.

Siang itu Arfabian sedang duduk menghadap meja tulis di kamarnya yang berada tepat di depan jendela terbuka itu. Tangannya tampak sibuk mengikuti gerakan pena yang sedang menari-nari di atas diary biru. "Yes, finish", serunya sambil melepaskan pelukan tangannya pada pena itu.

Hari berlalu cepat dan tak terasa kurang dari sepekan perkuliahan akan dimulai kembali. Usai sholat jumat hari itu, Arfabian meminta Ainaya menemuinya di taman kota. 

"Assalamu'alaikum", sapa Ainaya.
"Walaikumsalam", jawab Arfabian dengan senyum hangatnya.

Mereka duduk berjarak di bangku taman. Suasana hening, hanya terdengar suara angin dan gemercik air yang mengalir di kolam buatan itu. Keheningan pecah saat seorang lelaki dengan dandanan nyentrik dan bertingkah aneh lewat di depan mereka. 

"Hahaha...". Suara tawa yang bersamaan itu membuka obrolan keduanya yang tadi membisu. 

"Ehmm...". Arfabian tampak akan memulai percakapan. "Maaf, nih aku udah baca and lanjutin ceritanya sampai ending. Coba deh kamu baca mungkin ada yang perlu diperbaiki". Tanpa ragu ia memberikan diary itu ke pemiliknya.

Ainaya sangat terkejut. Dengan tangan gemetar diraih dan dibukanya diary itu. Perlahan dua bola matanya mengikuti tulisan yang dimaksud Arfabian.

"Sepekan menjelang perkuliahan, tiba-tiba Titan meminta Lila bertemu di taman kota. Hal ini membuat gadis itu bertanya-tanya mengapa tiba-tiba Titan menghubunginya? Rasa penasaran menemani perjalanan ke taman. Sesampainya disana, irama jantungnya berdegup kencang saat melihat pemuda yang sudah menunggunya itu. Rasa penasaran itu terjawab saat Titan memberikan diary yang tak disadarinya hilang itu. Dan Titan telah menuliskan kisah lanjutan cerita yang ditulisnya hingga penyelesaian, dimana Titan mengungkapkan perasaanya saat diary itu kembali ke pemiliknya".

Ainaya tak mampu mengangkat kepalanya setelah selesai membaca diary itu. Dia hanya menutupnya dan tetap tertunduk.

"Hei, bagaimana? Kira-kira Lila menerima cinta Titan ga?" Tanya Arfabian
Ainaya tersenyum malu dan mengangguk pelan. Diangkat sebentar kepalanya dan tertunduk lagi sehingga membuat Arfabian menggodanya terus.


#OneDayOnePost


Bandar Lampung, 24 Januari 2017

Posting Komentar

 
Top