2

Tidak seperti biasanya, sepenjang bulan Ramadhan ini jalanan di kotaku selalu tampak padat, baik oleh kendaraan, pejalan kaki, hingga para pengais rezeki (pedagang) dadakan yang berjejer di sepanjang jalan. Intensitas keramaian kian hari kian meningkat. Sampai-sampai terkadang aku harus terjebak lama di perjalanan dengan waktu yang tak normal. Terlebih di saat mendekati hari raya Idul Fitri, keramaian luar biasa ini ternyata tidak hanya terjadi di jalanan saja, tetapi juga di berbagai pusat perbelanjaan. Tempat ini pun tak kalah padatnya; benar-benar sesak oleh lautan manusia.

Kondisi ini memang sudah bukan fenomena baru lagi di masyarakat. Serbuan masyarakat di pusat-pusat perbelanjaan ini pun selalu punya satu tujuan, yaitu berburu baju lebaran. Pihak penjual pun semakin bersaing menawarkan diskon besar demi menjaring pembeli. Ya, inilah sebuah aktivitas menjelang Lebaran yang sudah sangat melekat dan menjadi tradisi di masyarakat. Hal ini memberi kesan seolah merayakan Lebaran tanpa baju baru itu kurang afdhol. Ibaratnya seperti masakan yang tanpa garam. Jadi teringat berita seorang istri di Garut beberapa tahun lalu yang nekat naik menara Saluran Udara Tenaga Ekstra Tinggi (SUTET), hanya karena sang suami kurang memberi uang untuk beli baju lebaran seharga Rp150.000.


Sebenarnya sah-sah saja jika seseorang ingin memakai baju baru di hari Lebaran, untuk menunjang penampilan terbaiknya. Bahkan Rasulullah sallallahu 'alaihi wassalam suka memakai pakaian terbaiknya saat merayakan Idul Fitri. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya dan Baihaqi, "Rasulullah memakai baju terbaik pada dua hari raya (Idul Fitri & Idul Adha)."

Namun apakah pakaian terbaik itu harus yang baru? Tentu saja tidak. Karena pakaian terbaik Rasulullah saat itu pun bukanlah pakaian baru. Tetapi baju yang masih cukup pantas untuk dikenakan. Nah, sebagai umat yang sangat mengagumi dan mencintai Rasulullah SAW, sudah sepatutnya kita pun meneladani apa yang dilakukan Rasulullah SAW. 

Jadi jika kita masih memiliki cukup pakaian yang masih bagus, rasanya tidak terlalu perlu untuk membeli yang baru. Lagipula hakikat Lebaran bukan tentang semua serba baru. Tapi tentang kebahagiaan merayakan kemenangan diri, atas kemampuan untuk menahan segala hawa nafsu, serta mere-charge diri hingga berhasil keluar sebagai insan yang lebih baik dalam sikap dan ketaatan. Jika hanya karena perkara baju lebaran sampai membuat kita melakukan hal bodoh, atau tidak semangat menyambut hari kemenangan, lantas apa fungsinya kita ditempa sebulan lamanya di bulan suci Ramadhan?

"Baju baru alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya, tak punya pun tak apa-apa, masih ada baju yang lama." Pastinya sobat sangat familiar dengan lirik lagu lama ini. Meskipun hanya untaian kata sederhana, tetapi lirik tersebut menyampaikan pesan bermakna. Dan ingatlah, bahwa Allah tabarokallah pun tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Beli yang baru sementara yang lama masih pantas dipakai, adalah suatu pemborosan. Terlebih jika di sekeliling kita masih ada mereka yang lebih butuh rasa belas kasih dan bantuan. Dari pada beli baju baru, sedang baju lama masih sangat layak, akan lebih baik dimanfaatkan untuk membahagiakan orang lain. 

Mari kita bersama mencoba memahami pesan yang Allah sampaikan dalam firmannya berikut.



Hari raya Idul Fitri bukan ajang saling tampil dengan ragam pakaian baru yang sedang hits. Alangkah lebih baik jika kelebihan yang diamanahkan pada kita dimanfaatkan untuk membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Atau jika pun ingin membeli baju baru, sedekahkan saja baju lama pada mereka yang membutuhkan. Semoga setiap sikap dan tindakan yang kita jalani selalu bernilai berkah hingga kelak kita tidak perlu terlalu lama menjalani hisab harta. Selamat Idul Fitri sobat jejak semua. Taqobbalaahu minnaa wa minkum. 



Posting Komentar

  1. Enggak harus sih Mba. Cuma orang tua justru yang suka ribut. Biar gak itu-itu aja katanya..hehe he

    BalasHapus
  2. Hehe...iya mbak. Ini mungkin karena sudah jadi kebiasaan. Jadi banyak yang beranggapan seperti harus.

    BalasHapus

Insto Dry Eyes, Si Mungil Penyelamat Keluhan Mata Kering

Sejak menekuni dunia blogging dan tergabung dalam sebuah jasa kepenulisan artikel sebagai content writer , membuatku tidak terlepas dar...

 
Top